JAKARTA, Beritasatu.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di enam provinsi tetap berjalan hingga Oktober-Air 2024, meski kondisi cuaca sudah berubah menjadi fase La Nina dan monsun. .
Read More : Prospek Kinerja Kian Membaik, Fitch Kerek Rating Bank Mandiri Jadi AAA (Idn)/’BBB’ dengan Outlook Stable
BNP telah memetakan enam provinsi besar yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Informasi, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan fase La Nina yang diperkirakan terjadi pada awal Agustus berarti peningkatan curah hujan sebesar 20-40%.
Namun berdasarkan hasil analisis citra satelit, BNPB masih menemukan titik panas di satu provinsi akibat sebaran hujan yang tidak merata. Hal ini menandakan api akan cepat menyebar jika tidak dikendalikan.
Oleh karena itu, kami memastikan bantuan karhutla dan pengendalian lahan terus berlanjut untuk enam wilayah besar tersebut, kata Abdul Muhari di Antara, Selasa (13/8/2024).
Selain itu, kegiatan pengelolaan terus dilakukan berdasarkan pengalaman kebakaran hutan dan lahan pada tahun-tahun sebelumnya dan didukung oleh analisis prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam analisis ini, curah hujan di Indonesia bagian barat diasumsikan bersifat sementara dan tidak menentu pada bulan Agustus hingga awal September. Sehingga dikhawatirkan setelah episode ini berakhir, hot spot akan kembali muncul jika tidak dikendalikan.
“Pekerjaan ini akan terus dilakukan hingga kondisi cuaca kembali normal, dan banyak daerah seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur yang menyatakan keadaan darurat kebakaran hutan dan lahan hingga November,” tambahnya.
BNPB telah memberikan bantuan seperti pesawat terbang, helikopter untuk inspeksi dan peralatan pompa untuk pemompaan air dan irigasi, yang telah didistribusikan ke enam negara bagian berdasarkan kebutuhan negara-negara di wilayah tersebut. Irigasi direkomendasikan untuk lahan gambut dan lahan mineral tandus.
Data yang dicatat Pusdalops BNPB hingga 22 Juli 2024 luas karhutla di Provinsi Riau seluas 572,9 ha, Sumsel 21 ha, Kalteng 275 ha, Kalbar 35 ha, Kalsel 19 ha, Kalsel 7 ha. Hektar, dan Provinsi Jambi per 3 Agustus 2024 dan luasnya 126 Hektar.
“Secara umum kebakaran hutan dan lahan telah berhasil diatasi di lapangan sehingga dapat mengurangi penyebaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Abdul Muhari.