JAKARTA, BERITASATU.COM – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komul Pol Marthinus Huklom telah menunjukkan bahwa daerah pesisir dan perbatasan di Indonesia telah menjadi yang paling berisiko dalam penyelundupan narkoba.
Read More : Dian Sandi PSI: Ijazah Jokowi yang Diunggah di Medsos Adalah Asli
Ini disiarkan pada hari Senin (15.5.2025) melalui kuliah publik di Universitas RIAU (UNI), Pekantbaru. “Indonesia memiliki 17.380 pulau dan lebih dari 99.000 km garis pesisir. Ini adalah celah besar yang digunakan oleh jaringan narkoba internasional,” kata Antara, Martinus. Faktor budaya adalah tantangan aplikasi
Berbeda dengan batas teritorial fisik, batas budaya di daerah perbatasan kabur. Ini membuat perdagangan narkoba antara mudah, tanpa menyadarinya.
Martinus menyebutkan tiga pola hubungan, yang sering digunakan oleh reseller, yaitu simbiosis mutualisme dan inticangkang. “Kesamaan budaya sering kali merupakan jalan simpati atau kepercayaan yang pada akhirnya digunakan untuk perdagangan narkoba ilegal,” katanya. Peran para siswa adalah harapan besar
Dalam kuliah publik dengan judul “Pencegahan dan Pemusnahan Narkotika, Penyalahgunaan dan Distribusi Gelap” Martinus mengundang para siswa untuk menjadi perawatan penjaga pertama dan pendidikan sosial untuk memerangi narkoba.
“Para siswa harus pergi langsung ke masyarakat dan menjadi perluasan BNN,” katanya. Ancaman Nyata: 3,3 juta pengguna narkoba di Indonesia
Read More : Ghufron Laporkan Balik Albertina, Jubir KPK: Itu Hal yang Wajar
Data terbaru mengklaim bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia adalah 1,73% atau sekitar 3,3 juta. Jumlah global mengejutkan: lebih dari 296 juta orang terperangkap dalam narkotika.
Kuliah publik, di mana lebih dari 250 siswa mengambil bagian di kampus kelas yang tidak terintegrasi, menjadi bagian dari strategi BNN untuk bermain akademisi untuk mencegah sains dan masyarakat.