JAKARTA, Beritasatu.com – Deputi Direktur Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi / BKPM Riatno mengatakan Stabilitas perekonomian menjadi faktor terpenting yang menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia. Ia sepakat pada tahun 2022, Indonesia menduduki peringkat ke-18 investasi dunia dan peringkat ke-2 Asia Tenggara setelah Singapura.
Read More : Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Cabut Moratorium PMI ke Arab Saudi
“(Situasi perekonomian kita) masih dalam posisi yang baik untuk menarik investasi,” ujarnya dalam diskusi khusus: “Investasi Masa Depan: Bagaimana Pemerintah Daerah Dapat Menarik Investasi Asing Langsung” di acara BNI Investor Daily Summit 2024 di Jakarta. Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (9/10/2024).
Lebih lanjut menurut Pak Riatno, dunia termasuk Indonesia saat ini sedang menghadapi ketidakstabilan global. Ketidakpastian global mencakup ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan perubahan iklim.
“Namun alhamdulillah pertumbuhan ekonomi kita berada pada level yang tinggi. Lebih dari 5%. Oleh karena itu, kita masih kuat menghadapi tantangan dunia yang belum lebih baik,” ujarnya.
Pak Riatno mengatakan pemerintah telah menerapkan beberapa strategi untuk mencapai hasil tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan kemudahan izin usaha bagi pengusaha.
Menurut dia, perizinan usaha lebih mudah setelah adanya UU Cipta Kerja. Hal ini untuk meningkatkan kerja sama di tingkat internasional.
Selain itu, pemerintah saat ini sedang menggalakkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Indonesia, Uni Eropa, dan Ghana agar investor asing terlindungi saat berbisnis di Indonesia.
Dalam acara yang sama, Bapak Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur mengungkapkan bahwa setiap daerah memiliki potensi dalam hal investasi. Emil mencontohkan, Kabupaten Trengalek merupakan kota yang perwakilan wilayahnya tidak cocok untuk pembangunan industri skala besar.
Pasalnya Kabupaten Trengalek memiliki jalan pegunungan dan jauh dari jalur transportasi dan perdagangan. Sebab wilayah Jawa mengalami perbedaan pembangunan hingga 70% agar perekonomian cukup berkembang dari Jakarta hingga Sulawesi.
Saat ditanya mengapa peraturan pemerintah daerah dan federal terkadang tidak konsisten, Emil menyalahkan adanya konflik di antara keduanya. Pengalamannya, ketika izin mendirikan bangunan (IMB) diubah menjadi Izin Mendirikan Bangunan (PBG) di suatu daerah, hal itu sebenarnya bisa dilakukan.
Hal senada juga diungkapkan Direktur Corporate and Commercial Banking BNI I Made Sukajaya. Ia mengatakan, wilayah Jatim banyak mendapat investasi dari perusahaan.
Sukajaya berpendapat, ketika investasi besar masuk ke daerah, maka akan menjadi peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan pembiayaan. Hal ini tentu menjadi katalis positif bagi perusahaan.
“Kalau bicara investasi di Jawa Timur, yang terpenting adalah ada peluang bagi perbankan untuk memberikan pembiayaan dan bank membutuhkan nasabah yang sehat,” ujarnya.
BNI Investor Summit 2024 merupakan investasi tahunan terbesar di Indonesia. K.P.Pon – 50 pembicara dalam dan luar negeri menghadiri upacara pembukaan pertemuan bertema “Accelerate Sustainable Growth” dan mengangkat 15 isu strategis di kawasan hilir Mekong, reformasi regulasi, konektivitas, pertumbuhan ekonomi dll. dan mengusulkan agenda diskusi besar untuk menjawab tantangan perekonomian bangsa dan dunia.