Washington, Beritasatu.com – Presiden AS Joe Biden meyakini pembentukan negara Palestina harus dicapai melalui negosiasi, bukan melalui pengakuan. Pernyataan tersebut disampaikannya di Gedung Putih pada Rabu (22/5/2024), sebagai tanggapan setelah Irlandia, Spanyol, dan Norwegia menyatakan akan mengakui Palestina pada 28 Mei.
Read More : Jokowi Siap Dampingi Paus Fransiskus Selama Kunjungan Bersejarah di Indonesia
Reaksi Washington tampaknya mencerminkan kekecewaan AS terhadap tiga negara Eropa yang mengumumkan niat mereka untuk terus menentang pengakuan negara Palestina.
Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan setiap negara dapat membuat keputusannya sendiri mengenai pengakuan negara Palestina, tetapi Biden berpendapat bahwa negosiasi langsung antar pihak adalah cara terbaik.
โPresiden Biden percaya bahwa solusi dua negara yang menjamin keamanan Israel dan masa depan martabat serta keamanan bagi rakyat Palestina adalah cara terbaik untuk mencapai keamanan dan stabilitas jangka panjang bagi semua orang di kawasan,โ kata Sullivan.
Presiden Biden tetap yakin bahwa solusi dua negara harus dilaksanakan melalui perundingan langsung antar pihak, bukan melalui satu pengakuan, ujarnya.
Sullivan ditanya apakah Amerika khawatir negara-negara lain akan mengikuti jejak mereka dalam mengakui negara Palestina. Menurutnya, AS akan menunjukkan sikap normalnya kepada mitranya.
Upaya Amerika selama puluhan tahun telah gagal mencapai solusi dua negara.
Read More : Putin Teken Aturan Hapus Utang Warga Rusia yang Daftar Ikut Perang Ukraina
Israel saat ini hidup berdampingan dengan negara Palestina yang mencakup Tepi Barat yang dikuasai Otoritas Palestina (PA), dan Jalur Gaza yang dikuasai pasukan Hamas.
Hamas mengambil alih wilayah pesisir. memisahkan diri dari PA selama perang saudara singkat pada tahun 2007.
Israel melancarkan serangannya ke Gaza setelah Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 253 orang. Akibat serangan Israel di Gaza, lebih dari 35.000 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, tewas.