Jakarta, Beritasatu.com – Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada tahun 2024% di tengah lambatnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran.
Read More : Paus Fransiskus Gunakan Pesawat Carter Garuda Indonesia untuk Terbang ke Papua Nugini
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkembangan ini memperkuat prospek penurunan suku bunga acuan The Fed alias Fed Funds Rate (FFR) yang lebih cepat dan lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya. Berdasarkan hasil riset BI pada Rapat Direksi 17-18 September 2024, BI memperkirakan FFR akan turun tiga kali pada tahun 2024 dan empat kali pada tahun 2025.
“Estimasi kami dengan data terkini, FFR kemungkinan akan turun masing-masing sebesar 25 basis poin pada September, November, dan Desember 2024. Untuk tahun depan akan ada empat lagi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil survei September 2024. Rapat Dewan Gubernur Bulanan di Gedung Thamrin BI pada Rabu (18/9/2024) dikutip Investor Daily.
Ketidakpastian terhadap kebijakan moneter negara-negara maju semakin berkurang seiring dengan berkurangnya tekanan inflasi global. Sejalan dengan perkembangan perekonomian AS, imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor 2 tahun semakin menurun dibandingkan dengan imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun.
Indeks mata uang AS terhadap mata uang nasional utama (DXY) juga melemah. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) di Eropa memangkas suku bunganya karena inflasi turun ke target jangka menengah sebesar 2%.
Read More : Polri Jemput 29 WNI Terlibat Judi Online di Filipina
“Di Asia, People’s Bank of China (PBoC) juga melakukan penurunan suku bunga seiring dengan rendahnya inflasi dan lemahnya permintaan domestik,” jelas Perry.
Perry menilai berbagai perkembangan tersebut telah mendorong berkurangnya ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatkan aliran masuk modal asing ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ke depan, kejelasan arah penurunan suku bunga di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, diharapkan akan semakin merangsang masuknya modal asing dan memperkuat stabilitas eksternal negara-negara berkembang.