Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) menambah likuiditas atau stimulus ke sektor perbankan sebesar 255,8 triliun mulai Juni 2024. Hal ini akan menyebabkan bank-bank komersial meningkatkan porsi pinjaman mereka untuk memenuhi target sektor ini.
Read More : Jokowi: Investasi IKN Membeli Masa Depan
“Kalau ada rebutan dana pihak ketiga (TPK), bank boleh bersaing, tapi jangan menaikkan suku bunga khusus atau suku bunga khusus untuk menambah likuiditas. Tapi kita bersaing di intermediasi atau penyaluran kredit di sektor-sektor prioritas,” ujarnya. kata Ryan Cyrianto, Senin (5/8/2024) dalam acara IDTV “Pasar Investasi Hari Ini”.
Dia mengatakan, dukungan likuiditas bank sentral kepada perbankan, yang mengarahkan pinjaman ke sektor-sektor prioritas, mempengaruhi perekonomian. Hal ini dapat memberikan efek multiplier yang tinggi terhadap perekonomian lokal, termasuk pembiayaan ekonomi hijau.
“Jika ada bank yang memberikan pinjaman pada sektor prioritas BI, maka persentase kewajiban penyediaan likuiditas bisa dikurangi karena kewajiban bank kepada BI berkurang,” ujarnya.
Read More : Operasi Zebra Semeru 2024 Dimulai Hari Ini, Polisi Incar Pengendara Lawan Arus hingga Tak Pakai Helm
Sebelumnya, BI memberikan tambahan likuiditas kepada perbankan sebesar Rp 255,8 triliun. Bahkan, BI menargetkan peningkatan tambahan pembiayaan ini menjadi Rp 280 triliun pada akhir tahun. Rinciannya, stimulus ini disalurkan kepada bank pemerintah sebesar Rp118,4 triliun, bank swasta nasional sebesar Rp108,9 triliun, bank pembangunan daerah (RBB) sebesar Rp9 triliun, dan bank asing sebesar Rp3,5 triliun.