Jakarta, Beritasatu.com -Menempel Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Institut Penelitian Ekonomi dan Publik, Universitas Indonesia (LPEM Februari UI), Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga orientasi pada Dewan Februari 2025.
Read More : Grab dan Gojek Ungkap Alasan Ojol Tak Bisa Jadi Karyawan Tetap
Ekonom Ekonomi Makro dan Pasar Keuangan LPEM Feb Ui Téku Riefky mengatakan pemutaran ini didasarkan pada peristiwa terbaru dalam ekonomi global dan domestik, yang masih penuh dengan ketidakpastian.
“Kami melihat bahwa BI harus mendukung tingkat bunga orientasi di RDG pada 5,75% pada bulan Februari,” kata RDG BI dari analisis ekonomi makro Rifki pada hari Selasa (18/2/2025).
Tingkat bunga orientasi dipengaruhi oleh ekonomi internal, yaitu inflasi diamati pada Januari 2025 0,76% (YOO), level terendah telah sejak tahun 2000 dan merupakan tujuan BI di bawah ini.
Penurunan ini sangat mempengaruhi beberapa kelompok diskon dengan diskon tarif listrik. Namun, tekanan inflatalis akan meningkat pada bulan -bulan berikutnya karena dua faktor utama.
Pertama, saat mendekati Ramadhan, kemungkinan akan meningkatkan permintaan, yang dapat menaikkan harga. Indeks ekspektasi harga umum (IEH) dicatat pada Maret 2025 di 179,0, dari 160,2 hingga periode sebelumnya.
“Inflasi masih berada di batas bawah target Indonesia.
Kedua, agresi Fed dalam bantuan moneternya dan arah kebijakan Presiden Trump, yang terus berkembang, memiliki potensi untuk mempengaruhi investasi, meskipun manajemen masih sulit diprediksi.
Read More : Prabowo Bawa Babak Baru Politik Luar Negeri Indonesia
Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (FED) untuk mendukung suku bunga referensi terutama karena kondisi inflasi terbaru di negara itu.
Pada bulan September 2024, setelah dimulainya kebijakan moneter, inflasi AS terus meningkat sebesar 2,4% (YOO) pada bulan September 2025 pada Januari 2025 (YOY) (YOY) pada Januari 2025, 2% dari target makanan jangka panjang.
Meskipun turun sedikit pada bulan Desember 2024 dan hingga 3,2% (YOY) menjadi 3,3% (YOY), yang telah stabil sejak September 2024, inflasi AS tertinggi meningkat 3,3% (YOY) pada Januari 2025.
“Perkembangan inflasi saat ini di Amerika Serikat meningkatkan pendapat bahwa bank federal akan mengurangi agresi suku bunga sepanjang tahun 2025,” Rifki menyimpulkan sebagai respons terhadap tingkat bunga orientasi BI.