Teheran, Beritasatu.com – Pemilihan presiden (Pilpres) Iran berlanjut ke putaran kedua pada 5 Juli, setelah Kementerian Dalam Negeri pada Sabtu (29/6/2024) menyatakan tidak ada calon presiden yang memperoleh suara cukup.
Read More : Jokowi Resmikan Jalan Baru di NTB Senilai Rp 211 Miliar
Putaran kedua mempertemukan anggota parlemen moderat melawan anak didik pemimpin tertinggi Iran.
Pemungutan suara pada Jumat (28/6/2024), untuk memilih pengganti Ebrahim Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter. Hasil babak pertama menunjukkan pertarungan ketat antara Masoud Pazhkian dan mantan anggota Garda Revolusi Iran Saeed Jalili.
Kementerian Dalam Negeri Iran mengatakan tidak ada calon presiden yang memperoleh 50 persen ditambah satu dari lebih dari 25 juta suara yang diperlukan untuk menang. Namun Pazhkian memimpin dengan lebih dari 10 juta suara, sementara Jalili meraih 9,4 juta suara.
Kekuasaan di Iran pada akhirnya berada di tangan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, sehingga hasil ini tidak akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan negara tersebut. Terutama dalam program nuklir Iran atau dukungannya terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.
Namun presiden menjalankan pemerintahan sehari-hari dan dapat mempengaruhi kebijakan negara.
Para ulama mengharapkan jumlah pemilih yang tinggi karena mereka menghadapi krisis legitimasi yang dipicu oleh ketidakpuasan publik atas kesulitan ekonomi dan pembatasan kebebasan politik dan sosial. Jumlah pemilih dalam pemilihan presiden hari Jumat turun sekitar 40 persen.
Pemilihan presiden terjadi di saat meningkatnya ketegangan regional akibat perang antara Israel dan sekutu Iran Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon, serta meningkatnya tekanan Barat terhadap Iran atas program nuklirnya yang berkembang pesat.
Read More : Budi Gunawan: Pemerintah Pantau Ketat Arus Mudik Lebaran 2025
Para analis percaya bahwa karena pemimpin tertinggi Iran berusia 85 tahun, presiden berikutnya kemungkinan besar akan terlibat erat dalam proses pemilihan pengganti Khamenei. Jadi bisa dipastikan Khamenei akan mencari presiden yang setia agar suksesinya berjalan lancar.
Jalili dikenal anti-Barat. Dia adalah mantan negosiator nuklir Iran yang tidak kenal kompromi, dan dia berbeda dari Pazhkian.
Para analis mengatakan kemenangan Jalili akan membuat Iran lebih keras dalam kebijakan luar negeri dan dalam negeri.
Namun, kemenangan Pezhashki kemungkinan akan membantu meredakan ketegangan dengan Barat, dan meningkatkan peluang reformasi ekonomi, liberalisasi sosial, dan pluralisme politik.