Jakarta, Beritasatu.com – Upaya dekarbonisasi yang dilakukan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sejalan dengan rencana besar pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero emisi (NZE) pada tahun 2060. Visi tersebut juga terlihat dalam rencana transformasi MDKA. penggunaan energi tradisional, ada energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.
Read More : Situasi Politik AS Kembali Stabil, Imbal Hasil SUN Diprediksi Turun
Grup Merdeka terus terlibat dalam berbagai inisiatif lingkungan untuk mendukung upaya dekarbonisasi. Antara lain dengan memanfaatkan transmisi energi batubara ke modul surya dalam pengoperasian dan produksi MDKA, khususnya di tambang tembaga Wetar yang dikelola PT BKP-BTR. Selain itu, mengacu pada peraturan Kementerian ESDM, seluruh acara MDKA Merdeka menggunakan campuran biofuel 35%, biodiesel B35 sebagai sumber tenaga kendaraan perusahaan dan kendaraan berat.
Selain hemat biaya, inisiatif Grup Merdeka dalam transformasi ini juga memiliki manfaat energi dan lingkungan. Sebab, penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik berkurang. Selain itu, tujuan efektivitas biaya MDKA tetap menjaga margin, memberikan nilai tambah dan meningkatkan kinerja jangka panjang perusahaan.
Jenis EBT lain yang juga mulai menarik perhatian Grup Merdeka selain tenaga surya adalah tenaga air dan tenaga angin yang saat ini sedang menjalani studi kelayakan. Perseroan saat ini terus mengkaji sektor energi berbasis EBT untuk dievaluasi di seluruh operasional MDKA. Saat ini, upaya dekarbonisasi MDKA sejalan dengan rencana ambisius pemerintah Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060.
Di bidang energi, arahan kepada NZE menyatakan bahwa penggunaan energi, sumber daya terbarukan di sektor energi dan transmisi listrik harus dimulai. Sebab penerapan ketiga leverage tersebut menjadi kunci penurunan 80% emisi listrik yang dibutuhkan Indonesia. Dengan cara ini, pergerakan Indonesia menuju nol emisi tetap berjalan sesuai rencana.
Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) anak perusahaan PT Bumi Suksendo (PT BSI) yang mengelola operasi penambangan Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur, Cahyono Seto mengungkapkan, MDKA telah melakukan perubahan di banyak area tambang yang menjadi sumber energi. dari. dari konsumsi karbon hingga EBT.
“Pada periode berikutnya, kita akan mulai menggunakan energi air dan angin. Kami akan mengubahnya secara bertahap dalam lima tahun ke depan, dan saat ini kami sedang mempersiapkan studi kelayakan. Faktanya, PT BSI menggunakan EBT 100%, kata Seto kepada Investor Daily, Kamis (25/07/2024).
Seperti diketahui, selain PT BSI, pemegang saham bersandi MDKA ini juga membawahi tiga proyek besar lainnya yakni Proyek Emas Pani, tambang dan tambang tembaga Wetar, serta smelter nikel yang berada di bawah kendali PT. Bahan Baterai Merdeka Tbk (MBMA).
Artinya, dalam lima tahun ke depan, MDKA akan melakukan perubahan besar, khususnya pemanfaatan EBT sebagai sumber energi pada proyek pertambangannya. Hal itu dibuktikan perusahaan dengan penggunaan EBT yang mencapai 100 per PT BSI.
Peringkat ESG
Komitmen Grup Merdeka terhadap dekarbonisasi tidak dapat disangkal. Skor Environmental, Social and Governance (ESG) dengan skala yang berlaku pada November 2023 ini menjadi penanda bahwa MDKA merupakan perusahaan yang memenuhi syarat khususnya di bidang lingkungan hidup. Namun peringkat MDKA ditingkatkan dari BBB menjadi A Lembaga investasi global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menilai MDKA sebagai satu-satunya perusahaan pertambangan Indonesia di MSCI Diversified Metals and Mining dengan peringkat A.
Read More : Arab Saudi Akhirnya Setujui Tambahan Kuota Petugas Haji Indonesia 2025
Menurut Seto, dengan peringkat A yang diperoleh MDKA, perseroan mempunyai banyak keunggulan, salah satunya terkait kemudahan pembiayaan.
“Karena uang para penambang sangat penting bagi bank, mereka sangat memperhatikan ESG. “Jika mendapat peringkat A, berarti kami tergolong perusahaan yang menggunakan ESG secara efektif,” ujarnya.
MDKA mengambil tindakan untuk melindungi lingkungan
Isu lingkungan hidup begitu penting bagi MDKA sebagai pelaku pertambangan sehingga Grup Merdeka berkomitmen penuh untuk mewujudkannya melalui tindakan nyata. Salah satu yang berjalan konsisten selama dua tahun terakhir adalah penanaman pohon mangga.
“Tahun lalu kita tanam 2.000 sarang di empat wilayah kita, dan tahun ini lagi 2.000 mulai dari Banyuwangi, Wetar, sekitar 1.000 dari Jakarta,” kata Seto.
Bukan tanpa alasan MDKA memilih pohon mangrove dalam upaya dekarbonisasinya. Mangrove dianggap sebagai tanaman pesisir yang mampu menyerap karbon empat kali lebih banyak dibandingkan tanaman lainnya.
Alasan lain MDKA melakukan penanaman pohon mangrove, lanjut Seto, adalah kepedulian perusahaan terhadap perlindungan lingkungan dan perubahan iklim global yang dampaknya semakin dirasakan oleh semua negara, termasuk Indonesia.
“Jadi kami diwajibkan oleh undang-undang untuk menanam sarang lebah. “Ini kembali menjadi keputusan MDKA bahwa pengangkatan ini harus kita selenggarakan setiap tahunnya,” tegasnya.