Jakarta, Beritasatu.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan suku bunga dasar Bank Indonesia (BI) sebesar 25bp akan berdampak pada kesulitan perekonomian. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat perekonomian dan mencapai target pertumbuhan dan indikator makroekonomi yang diharapkan.
Read More : Laba Bersih ADHI Tumbuh 11% dan Solvabilitas Terus Membaik DER IBD 1.04x di Semester I 2024
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani mengatakan dampak kenaikan BI rate akan meningkatkan suku bunga kredit dan meningkatkan cost of fund dunia usaha. Hal ini meningkatkan HPP (harga pokok penjualan) yang diperlukan untuk produksi.
Ajib, Rabu (24/4/2024), mengatakan, “Yang perlu dimitigasi adalah munculnya inflasi akibat kenaikan biaya produksi atau inflasi kenaikan biaya.”
BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga dasar BI sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%. Sementara itu, pada 23-24 April 2024, rapat Dewan Perbankan Indonesia (RDG) memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito sebesar 25bp menjadi 5,5% dan suku bunga pinjaman sebesar 25bp menjadi 7%.
Menurut dia, kenaikan suku bunga dasar BI akan berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat akan tertekan seiring menurunnya likuiditas dan naiknya harga komoditas.
Selain itu, ruang fiskal pemerintah untuk mendukung daya beli masyarakat melalui skema bantuan sosial relatif terbatas, kata Ajib.
Ajib mengatakan, kenaikan suku bunga dasar BI dapat menyebabkan perlambatan perekonomian. Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik sejak pandemi. Sebab, bisa melebihi 5%. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tersebut menghadapi masalah tren penurunan.
Laju pertumbuhan ekonomi secara total akan mencapai 5,31% pada tahun 2022 dan tetap sebesar 5,05% pada tahun 2024. Tren penurunan ini diperkirakan akan berbalik lagi pada tahun 2024, dengan pemerintah memperkirakan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%.
Read More : Menparekraf Dorong Program Senandung Dewi Perkuat Potensi Desa Wisata
“Mengingat hal tersebut, pemerintah perlu menyusun program dan kebijakan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang,” jelas Ajib.
Dikatakannya, untuk mengendalikan inflasi dan menjaganya pada kisaran 2,5% ± 1%, pemerintah perlu melibatkan seluruh pemangku kepentingan perekonomian yang ada dan membangun ekosistem usaha yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah.
Meliputi sektor pertanian, peternakan, kelautan, energi dan lainnya. Pemerintah harus fokus untuk menjadikan investasi jangka panjang lebih menarik dibandingkan investasi jangka pendek untuk menghindari kemacetan di pasar keuangan. Investasi jangka panjang ini harus didukung melalui kemudahan berbisnis dan insentif yang selaras dengan tujuan Anda.
Di sisi lain, untuk meningkatkan nilai rupiah, pemerintah harus tetap konsisten fokus pada transformasi ekonomi melalui orientasi ekspor dan substitusi impor. “Selanjutnya, kita harus membuat kesepakatan untuk melakukan transaksi perdagangan dalam mata uang lokal dan menghapus dolar,” kata Perdana Menteri Ajib.