Jakarta, Beritasatu.com – Susu bubuk (ASI) belakangan ini menjadi perbincangan di media sosial. Metode ini, juga dikenal sebagai liofilisasi, digunakan untuk memperpanjang umur simpan dari 6 bulan di lemari es menjadi 3 tahun pada suhu berapa pun.
Read More : Trump Pertimbangkan Ringankan Sanksi Iran
Proses ini dilakukan dengan menempatkan susu segar pada suhu rendah, kemudian langsung mengeluarkan air dari susu beku dengan cara memanaskan susu pada suhu rendah agar air menguap tanpa berlebih dari fase cair.
Cara mengeringkan susu ini merupakan ide baru dan belum banyak informasi atau penelitian mengenai apakah susu bubuk dapat diberikan dengan baik kepada bayi.
Satgas Susu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (Satgas ASI) mengatakan, belum ada penelitian yang jelas mengenai efek samping pengeringan susu.
Apa efek samping susu beku? Menurut laman Parents, Alberta Health Services Canada juga mengatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan penggunaan metode ini karena kurangnya penelitian.
Pengeringan tidak menghilangkan bakteri dan virus di dalam susu, sehingga dikhawatirkan terjadi kontaminasi selama penanganan.
Hingga saat ini, belum jelas apakah ASI memiliki perbandingan protein, lemak, dan karbohidrat yang dibutuhkan anak.
Read More : Malaysia Tak Lagi Terapkan Karantina untuk Pasien Positif Covid-19
Kekhawatiran lainnya adalah ASI tidak lolos proses pasteurisasi yang digunakan untuk membunuh bakteri berbahaya. Milkify atau salah satu layanan yang menyediakan susu mengatakan bahwa pasteurisasi sengaja dihindari untuk menjaga probiotik penting yang ada dalam susu dan dapat dihancurkan oleh proses pasteurisasi.
Sama seperti bakteri yang dapat tumbuh dalam susu segar jika dibiarkan pada suhu rendah dalam waktu lama, susu juga dapat tumbuh kembali.
Meski banyak orang yang tertarik dengan metode ini, perlu diperhatikan bahwa hingga terdapat cukup penelitian yang membuktikan keamanan susu beku-kering. Satgas IDAI ASI menyatakan mewaspadai praktik tersebut.