Kuala Lumpur, Beritasatu.com – Presiden Anwar telah menunjuk beberapa orang dari negara lain sebagai penasihat kepemimpinan Malaysia di ASEAN. Langkah tersebut diyakini belum pernah dilakukan oleh pemimpin ASEAN sebelumnya. 

Read More : Isu Politik Terkini: Golkar Tetap Bersama Koalisi Indonesia Maju hingga Sandiaga Maju Pilkada

Kepemimpinan Malaysia di ASEAN akan dimulai pada tahun 2025. Sebagai persiapan, pada Senin (16/12/2025), Anwar Ibrahim menunjuk mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra sebagai bagian dari kelompok penasihat informal yang terdiri dari para pemimpin berpengalaman. Kabar ini terungkap saat Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra yang juga putri Thaksin berkunjung ke Malaysia.

Selain Thaksin, Anwar Ibrahim juga menunjuk Retno Marsudi (mantan Menteri Luar Negeri Indonesia dan duta besar perairan PBB), dan mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Anwar Ibrahim untuk mencapai kemajuan dalam isu-isu regional yang sulit diselesaikan, seperti krisis Myanmar dan konflik di Laut Cina Selatan.

Sharon Seah, peneliti senior di Pusat Studi ASEAN ISEAS-Yusof Ishak Institute, meyakini tren ini tidak biasa. Biasanya, ketua ASEAN bertindak sebagai satuan tugas atau menunjuk orang yang diakui untuk menangani isu-isu tertentu.

“PM Anwar dapat mengambil manfaat dari pengalaman para penasihat untuk memberikan nasihat dalam menghadapi tantangan,” kata Seah.

Namun keputusan ini juga mendapat kritik di dalam negeri. Politisi oposisi dari Parti Islam Se-Malaysia mempertanyakan terpilihnya Thaksin yang memiliki catatan kontroversial. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan membela tindakan tersebut dengan mengatakan Thaksin memiliki pengaruh besar di Thailand dan memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Krisis Myanmar masih menjadi tantangan besar bagi ASEAN. Upaya perdamaian melalui Konsensus Lima Poin, termasuk mediasi yang dilakukan utusan khusus ASEAN, sejauh ini belum berhasil. Penunjukan Retno Marsudi yang memiliki pengalaman lebih dari 300 pertemuan terkait Myanmar selama Indonesia menjabat sebagai presiden ASEAN dinilai penting untuk menyelesaikan persoalan ini.

Read More : Orang Tua Ungkap Rahasia Jadikan Evandra Sosok Pemain Sepak Bola Hebat

Pada saat yang sama, perselisihan di Laut Cina Selatan yang melibatkan klaim Tiongkok dan beberapa negara anggota ASEAN, seperti Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, merupakan permasalahan yang memerlukan cara kerja diplomatis.

Bilahari Kausikan, mantan kepala Kementerian Luar Negeri Singapura, mengatakan kelompok penasihat tersebut memberikan nasihat kepada ketua ASEAN, bukan ASEAN secara keseluruhan. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan kerusakan langsung pada organisasi.

Joshua Kurlantzick, peneliti Asia Tenggara di Council on Foreign Relations, menilai langkah Anwar Ibrahim berupaya mengatasi kelemahan birokrasi ASEAN. Namun, juga diragukan apakah hal ini akan membuahkan hasil, mengingat kompleksitas permasalahan regional yang sedang dibahas.

Para pengamat menekankan bahwa keberhasilan badan penasihat ini bergantung pada transparansi dan inklusi. Jamil Ghani, peneliti di S Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengatakan bahwa meskipun pendekatan ini pragmatis, harus ada jaminan bahwa tidak ada tumpang tindih antara aktivitas penasihat informal dan organisasi non-pemerintah yang merupakan perwakilan penting ASEAN .

“Langkah ini menunjukkan Anwar Ibrahim merasa membutuhkan bantuan pihak-pihak yang berpengalaman di ASEAN untuk mengatasi permasalahan politik,” kata Jamil menanggapi Keketuaan Malaysia di ASEAN tahun depan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *