Jakarta, Beritasatu.com – Harga minyak mentah turun pada Selasa (3/9/2024) sekitar 5% mencapai level terendah dalam hampir sembilan bulan. Situasi ini terjadi di tengah tanda-tanda bahwa kesepakatan dapat dicapai untuk menyelesaikan konflik yang telah mengganggu produksi dan ekspor minyak mentah Libya.
Read More : Hadiri Indonesia Net-Zero Summit 2024, Ridwan Kamil Bicara Krisis Iklim
Menurut Reuters, minyak mentah berjangka Brent turun $3,77 atau 4,9% mencapai US$73,75 per barel, terendah sejak 12 Desember 2023. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun $3,21 atau 4,4% menjadi US$70,34, juga turun $3,21 atau 4,4% menjadi US$70,34. terendah sejak Desember 2023.
Brent turun 0,3% minggu lalu, sementara WTI turun 1,7%.
Pada hari Selasa, badan legislatif Libya setuju untuk menunjuk gubernur bank sentral baru dalam waktu 30 hari setelah pembicaraan yang ditengahi PBB. Ekspor minyak Libya ke pelabuhan-pelabuhan utama berakhir pada Senin (2/9/2024), dan produksi di seluruh negeri dibatasi.
Sebelum berita kemungkinan kembalinya pasokan Libya ke pasar, harga minyak sudah jatuh karena kekhawatiran melambatnya permintaan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia.
Read More : Apresiasi Izin Tambang untuk Ormas Keagamaan, BKPRMI Belum Ikuti Langkah NU dan Muhammadiyah
“PMI manufaktur Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan selama akhir pekan kemungkinan akan meningkatkan kekhawatiran mengenai efisiensi perekonomian Tiongkok,” kata Charalampos Pissouros, analis investasi senior di perusahaan pialang XM.
Di sisi lain, gangguan pasokan dari Timur Tengah, menyusul serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Laut Merah lepas pantai Yaman pada hari Senin, tidak cukup untuk mengangkat harga. Kapal-kapal tersebut tidak mengalami kerusakan serius.