Jakarta, Beritasatu.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Papua Barat Philep Wamafma meminta pemerintah pusat turun tangan mengatasi permasalahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) provinsi Papua Barat. Proses ini dapat dilakukan melalui wilayah yang lebih tinggi di Papua Barat oleh pemerintah pusat.

Read More : JK Kritik Nadiem, P2G: Kebijakan Pendidikan Saat Ini Belum Menyentuh Akar Masalah

“Pemerintah pusat dapat terlibat dalam kebijakan yang mendorong keunggulan daerah guna menumbuhkan perekonomian, sehingga defisit anggaran tidak mempengaruhi kualitas layanan utama seperti pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi kreatif,” ujarnya kepada wartawan. . , Jumat (11/10/2024).

Philep memahami minimnya APBD di Papua Barat disebabkan terbatasnya kapasitas daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik, pengembangan pelayanan, dan perlindungan sosial. Sebab, pendapatan asli daerah (PAD) lebih kecil dibandingkan belanja daerah dalam satu tahun anggaran.

“Dalam konteks perekonomian daerah, pembahasan kekurangan dana sangat penting karena berdampak langsung pada stabilitas keuangan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Filep mengingatkan, minimnya dana akan mempengaruhi daya saing daerah dalam menarik investasi. Dengan anggaran yang terbatas, kemampuan daerah dalam membiayai proyek-proyek strategis seperti pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas pelayanan publik menjadi terhambat.

“Keadaan ini pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan sektor-sektor utama di daerah seperti pariwisata, pertanian, dan perikanan yang sebenarnya mempunyai potensi besar dalam meningkatkan PAD,” tegas Ketua Komite III DPD ini.

Terkait hal tersebut, Philep meminta pemerintah pusat turun tangan dalam strategi peningkatan Papua Barat. Intervensi ini harus dibicarakan secara serius agar tidak menghambat pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, produksi sektor ekonomi, dan investasi.

Read More : BMKG: Banjir di Jabodetabek Disebabkan Air Kiriman dari Bogor

Oleh karena itu, pembahasan kekurangan APBD harus diperhatikan sebagai upaya mengidentifikasi sumber permasalahan perekonomian dan mengambil solusi tuntas, guna menciptakan perekonomian daerah yang mandiri dan berkelanjutan, ”ujarnya.

Philep juga menyinggung permasalahan penting terkait penurunan pendapatan daerah Papua Barat pada tahun lalu. Pertama, menurunnya pengakuan pajak mengindikasikan adanya potensi permasalahan dalam pemungutan pajak.

Kedua, penurunan anggaran daerah mencerminkan ketidakstabilan anggaran yang dapat mempengaruhi program pembangunan dan pelayanan publik di Papua Barat.

“Oleh karena itu, langkah-langkah yang diharapkan juga harus segera diambil agar defisit tidak semakin membesar, termasuk menyeimbangkan biaya dan memprioritaskan lapangan kerja yang mendukung pengembangan layanan publik dan infrastruktur NT.” Dengan menerapkan langkah-langkah ini, Papua Barat dapat mencegah masalah dan menjamin stabilitas ekonomi regional,” tutup Philep.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *