Jakarta, Beritasatu.com – Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Penderita lupus memerlukan penanganan khusus dan pengawasan ketat oleh tenaga medis.
Read More : Anji-Wina Bercerai Tanpa Berseteru, Netizen: Gading-Gisel Versi Kedua
Dr Rani Garhani dari Jansari, anggota Kelompok Kerja Koordinasi Alergi dan Imunologi (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan anak perempuan berisiko lebih tinggi terkena lupus dibandingkan anak laki-laki.
โSebagian besar penyakit lupus menyerang anak perempuan, dengan rasio yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki, yaitu 9 berbanding 1, dan terutama dialami oleh remaja berusia 11 hingga 12 tahun,โ ujarnya, Rabu (5/5/2024). oleh Antara.
Dr Rennie menjelaskan, hormon estrogenlah yang meningkatkan risiko lupus pada seorang gadis.
Estrogen adalah sejenis hormon wanita yang diproduksi oleh ovarium. Hormon ini berfungsi mengatur siklus menstruasi Anda, mendukung kehamilan yang sehat, dan menjaga kesehatan jantung.
Tentu saja faktor hormonal, terutama estrogen, berperan besar dalam perkembangan penyakit lupus, karena hormon estrogen memperburuk faktor peradangan dan menyebabkan peradangan pada anak yang mungkin menderita lupus, jelasnya.
Penyebab lupus masih belum sepenuhnya dipahami. Namun penyebabnya diduga merupakan interaksi antara faktor internal dan eksternal, antara lain hormon, lingkungan, dan faktor genetik.
Read More : 6 Penyebab Wajah Jadi Kusam gegara Sunscreen
Menurut laporan di situs Kementerian Kesehatan (Kmanax), peningkatan laju pertumbuhan lupus sebelum menstruasi atau selama kehamilan mendukung dugaan bahwa hormon, terutama estrogen dan prolaktin, menjadi pemicu penyakit tersebut.
Penyakit lupus pada anak ditandai dengan anak sering mengalami demam. Gejala ini biasanya datang dan pergi, namun tidak menyebabkan demam tinggi.
Selain itu, anak-anak sering kali dirawat karena wajah pucat dan demam terus-menerus, yang juga bisa menjadi tanda lupus.