Jakarta, Beritasatu.com – Praktek kerja berlangsung pada saat pembangunan pabrik mobil listrik asal China BYD atau Jenga Ndoto Yako di Brazil. Pemerintah Brazil juga telah menangguhkan pembangunan pabrik tersebut, sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai tujuan global BYD.

Read More : Jennifer Coppen Minta Masyarakat Tidak Sebarkan Foto Kecelakaan Suaminya

Mengutip Carscoops, Jumat (27/12/2024), pemerintah Brazil menyebut perusahaan konstruksi yang membawahi proyek tersebut, yakni Jinjiang Construction, diduga melakukan korupsi. 163 pekerja mengatakan bahwa mereka dipermalukan dan disebut perbudakan modern.

Para pekerja tersebut, yang sebagian besar dipekerjakan oleh perusahaan lain di Tiongkok, diduga dibawa ke Brasil dengan cara yang patut dipertanyakan. Lebih dari 100 pekerja juga melaporkan bahwa paspor mereka disita, sehingga mereka tidak dapat meninggalkan tempat tersebut dan terdampar di sana.

Kondisi kerja para pekerja tersebut dikatakan sangat buruk. Mereka tinggal di gedung dengan fasilitas terbatas, seperti tempat tidur tanpa kasur, dan dalam satu kasus, hanya 31 karyawan yang akan menggunakan kamar mandi.

Berdasarkan laporan resmi, para pekerja harus bangun sekitar pukul 04.00 pagi untuk mengantri menggunakan toilet sebelum mulai bekerja pada pukul 5.30. Laporan lain juga mengungkapkan bahwa juru masak harus menyimpan makanan di lantai tanpa perlindungan yang memadai hingga keesokan harinya.

Yang terburuk, perusahaan Jinjiang Construction Brazil LTD dari Sichuan, Tiongkok, yang melaksanakan proyek ini, dikatakan telah menahan 60 persen gaji pekerja, dan hanya 40 persen yang dibayarkan dengan dana Tiongkok. Pekerja juga dikenakan biaya yang tinggi jika ingin memutus kontrak kerja.

Dengan ditemukannya undang-undang perbudakan di pabrik BYD, pemerintah Brasil memutuskan untuk menghentikan Jinjiang melanjutkan operasinya. Pekerja tidak tetap tinggal serumah, namun tidak diperbolehkan bekerja di perusahaan.

Read More : Nikita Mirzani: Lolly Sedang Menstruasi, Hasil Visum Belum Maksimal

Pada saat yang sama, kelompok Jinjiang membantah klaim yang dibuat oleh pihak berwenang Brasil bahwa perlakuan terhadap karyawan mereka adalah bentuk perbudakan. Jinjiang mengatakan tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta kasus dan diduga ada kesalahan penerjemahan.

Jinjiang menulis: “Kami telah disebut sebagai perbudakan secara tidak adil, yang menyebabkan para pekerja kami merasa bahwa martabat dan hak asasi manusia mereka telah dilanggar. Ini sangat merusak reputasi masyarakat. Pengumuman resmi Tiongkok diposting di akun Weibo mereka.

General Manager Corporate Affairs dan Public Relations BYD Li Yunfei kembali membagikan informasi tersebut melalui akun Weibo miliknya.

Dalam unggahannya, Li Yunfei menuding negara asing dan banyak media Tiongkok melakukan campur tangan yang menurutnya sengaja mencoreng reputasi perusahaan Tiongkok dan negaranya. Ia juga menilai upaya mengungkap perbudakan dalam pembangunan pabrik BYD Brazil bertujuan untuk menghancurkan hubungan China dan Brazil.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *