Jakarta, Beritasatu.com – Pengamat politik Adi Prayitno menilai ada konflik internal di tubuh Partai Golkar yang kemudian berujung pada mundurnya Ailanga Hartarto sebagai Ketua Umum. Adi mencatat, setiap pergantian presiden Golkar biasanya diawali dengan situasi yang tidak biasa.

Read More : Bahlil Teteskan Air Mata Saat Serahkan Jabatan Menteri Investasi ke Rosan Roeslani

“Kalau kita melihat tren secara umum, pimpinan Partai Golkar selalu lahir dari keadaan yang tidak biasa. Sebelum Airlanga, Setya Novanto adalah presiden utama di tengah konflik internal kubu Aburizal Bakri dan Agung Laksono,” kata Adi kepada wartawan. , Minggu (8/11/2024).

Adi juga mengenang Airlanga terpilih menjadi presiden saat Setya Novanto menghadapi kendala hukum. Ia mengatakan, pengunduran diri Airlangga serupa dengan peristiwa tahun 2004 saat Jusuf Kalla menggantikan Akbar Tanjung yang memperoleh suara terbanyak pada pemilu legislatif Golkar.

“Keadaan seperti itu membuat peralihan presiden Golkar selalu didahului oleh situasi yang tidak normal dan tidak menguntungkan. Jadi, jika Airlangga tiba-tiba lengser, maka akan semakin memperpanjang sejarah suksesi kepemimpinan Partai Golkar yang selalu diwarnai dengan keadaan yang tidak normal. ,” jelas Adi.

Mundurnya Eirlanga Hartarto sebagai Ketum Partai Golkar menimbulkan pertanyaan besar.

“Pengunduran diri Airlangga menurut saya sangat di luar dugaan dan mendadak sehingga mengejutkan banyak pihak karena isu seputar munaslub (Majelis Nasional Luar Biasa) tidak pernah selesai,” kata Adi.

Menurut dia, keputusan tersebut bertentangan dengan kepemimpinan Airlanga yang berhasil menambah perolehan kursi Partai Golkar pada pemilu legislatif 2024.

Read More : Prabowo Apresiasi Pengamanan Mudik Lebaran 2025 yang Lancar dan Aman

Meski demikian, Adi menilai mundurnya Airlangga menambah panjang daftar pergantian kepemimpinan di Partai Golkar yang tidak selalu terjadi secara alamiah.

Diberitakan sebelumnya, Airlanga Hartarto resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Partai Golkar. Dalam video resmi yang dirilis Partai Golkar yang berbasis di Jakarta, Airlanga menjelaskan alasan pengunduran dirinya karena ingin menjaga keutuhan Partai Golkar dan menjamin stabilitas pada masa transisi pemerintahan Presiden Joko Widodo ke presiden terpilih. Prabu Subianto. .

“Mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dan mengikuti petunjuk Allah SWT, dengan ini saya umumkan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum DPP Partai Golkar,” kata Airlangga dalam video tersebut.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *