Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Keuangan (Kemenku) akan kembali menjadi tuan rumah Konferensi Keuangan Islam Tahunan (AIFC) ke-8 atau 8 Annual Islamic Finance Conference pada 3-4 Oktober 2024 kembali di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta.
Read More : Demokrat Dukung Siapa di Pilgub Sumut? Ini Jawaban AHY
Forum yang mengusung tema “Peran dan Adaptasi Keuangan Publik Islam: Mengeksplorasi, Memanfaatkan Potensi dan Inovasi Pengelolaan Keuangan Publik Islam untuk Pembangunan Ekonomi” ini akan menjadi ajang dialog strategis antar pemangku kepentingan, pengambil kebijakan, ekonom, akademisi, dan praktisi dari berbagai bidang. . Tentang pengembangan dan potensi keuangan publik syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Menteri Keuangan (MENKU) Shri Mulyani Indrawati menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan AIFC yang kini memasuki tahun ke-8.
“Ini merupakan tahun kedelapan sehingga saya sangat mengapresiasi upaya Kementerian Keuangan khususnya Badan Kebijakan Keuangan (BKF) yang menyelenggarakan acara ini secara konsisten setiap tahunnya agar kita dapat menggali dan memanfaatkan nilai-nilai Islam dalam konteks keuangan masyarakat” , kata Pak Mulyani di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (10 April 2024).
Lebih lanjut, Pak Mulyani menekankan pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW dalam mengelola keuangan negara.
“Yang terpenting bagi kita, khususnya yang mengelola keuangan negara, adalah meneladani akhlak Nabi kita pembawa kedamaian, antara lain amanah (dapat dipercaya), siddiq (jujur), fathonah (bijaksana) atau bijaksana) Tabligh (memberi pesannya),” jelasnya.
Read More : IHSG Siang Hari Ini Naik 26 Poin Ditopang Sektor Energi
Shri Mulyani juga menyoroti tantangan penerapan nilai-nilai Islam di tengah dinamika perekonomian dan pembangunan saat ini.
“Selain keutamaan-keutamaan tersebut, kita juga harus fokus pada hakikat nilai-nilai Islam yang sebenarnya, bukan sekedar aspek hukum atau permukaannya saja. Islam, berupa Rahmatan Lil’Alamin (kasih sayang terhadap seluruh alam), sangat penting. untuk seluruh umat manusia.” . adalah nilai universal Sri Mulyani menyimpulkan, “Tantangan global adalah bagaimana kita dapat menerapkan nilai-nilai tersebut dalam konteks dinamika ekonomi, keuangan, dan pembangunan saat ini tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar tersebut”.