Seoul, Beritasatu.com – Generative AI kini menjadi bagian dari produksi drama Korea, membawa perubahan signifikan pada proses kreatif industri hiburan. Drama Korea Kiss Lighting – Ghost Cupid debut di channel YouTube SBS pada 4 Desember 2023 dan mendapat perhatian.

Read More : Happy Asmara dan Gilga Sahid Akad Nikah, Digelar Tertutup

Drama Korea ini merupakan bagian dari K-Village Project yang merupakan hasil kerjasama SBS Medianet dengan Korea Foundation for the Cooperation of Large and Small Businesses, Rural Affairs. Ceritanya tentang hantu bernama Wooyeon (diperankan oleh Jung Hyuk) yang membantu orang menemukan cinta dengan cara yang unik.

Menurut Kings Creative, tim produksi menggunakan ChatGPT untuk membuat naskahnya. Kerangka cerita awal disiapkan oleh sutradara dan disempurnakan dengan bantuan kecerdasan buatan sebelum diselesaikan oleh penulis.

Teknologi visual seperti HeyGen, ElevenLabs, dan MidJourney juga digunakan untuk membuat gambar berkualitas tinggi dengan biaya yang efektif. Biaya produksi visual berbasis AI hanya berkisar 100.000 won (Rp 1,1 juta) per bulan, jauh lebih hemat dibandingkan ilustrasi manual yang bisa menghabiskan biaya hingga 300.000 won (Rp 3,3 juta) per gambar.

Produser Jung In-su mengatakan teknologi AI sangat bermanfaat. “Dulu butuh waktu berhari-hari untuk mengubah wajah atau detail visual. Kini dengan bantuan kecerdasan buatan, prosesnya jauh lebih cepat dan hasilnya sangat memuaskan,” jelasnya.

Menurut Yang Eek-jun, produser Mateo AI Studio dan pemenang hadiah utama Festival Film AI Internasional Korea 2024, AI membuka peluang besar bagi pencipta independen.

“Sekarang kita bisa membuat film di rumah, tanpa waktu atau tenaga. Ini adalah masa yang luar biasa di mana keterbatasan modal tidak lagi menjadi kendala,” kata Yang pada konferensi pers Immersive Day 2024.

Read More : Aurel Hermansyah Dihujat Netizen karena Konten Atta Halilintar Diduga Sindir Fuji

Namun demikian, tantangan masih tetap ada, terutama dalam mempertahankan perhatian penonton terhadap film layar lebar. “Durasi minimal 80 menit merupakan ujian besar, karena konten AI seringkali tidak dapat menarik perhatian lebih dari satu menit,” tambahnya.

Seiring kemajuan teknologi, permasalahan hak cipta menjadi semakin mengkhawatirkan. “Hak cipta dalam proyek berbasis AI menjadi rumit karena AI adalah penggerak utama proses kreatif. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kepemilikan karya yang dihasilkan,” kata Lee Seung-ki, seorang pengacara di Lee & Rekan Hukum.

Hak cipta yang tidak jelas ini dapat menimbulkan perselisihan antara perusahaan teknologi AI dan penciptanya. Untuk mengatasi masalah ini, Lee menyarankan untuk membuat kontrak atau kemitraan khusus antara perusahaan AI dan produsen konten.

Selain itu, terdapat tantangan penggunaan kecerdasan buatan di drama Korea lainnya karena adanya risiko plagiarisme. Yang mencontohkan, karyanya terkadang memiliki kemiripan dengan produksi studio besar seperti Pixar dan Disney, sehingga dapat menimbulkan konflik hukum.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *