Mataram, Beritasatu.com – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan IWAS alias Agus, pelajar penyandang disabilitas asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus menyedot perhatian publik. Agus yang kini menjadi tersangka kasus dugaan pelecehan seksual menjadi sorotan karena kecacatannya yang dinilainya membatasi kemampuannya dalam melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut.
Read More : Kearifan Lokal Bali Jadi Perhatian Dunia, Netizen Bangga
Agus, mahasiswi semester tujuh jurusan seni budaya ini dikenal aktif dalam kegiatan gamelan bersama komunitasnya. Dalam kesehariannya, Agus sangat bergantung pada ibunya, I Gusti Ayu Ariparni, untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi hingga makan, karena ia tidak punya tangan.
Menurut Aribarni, Agus tidak bisa melakukan aktivitas dasar secara mandiri karena kondisi yang ia alami sejak lahir. “Bagaimana bisa dia melepas baju atau celananya sendiri, sedangkan saya yang merawatnya dari bayi hingga besar,” kata Ay Gusti Ayo Aribarni. Rabu (12/4/2024).
Gas Gusti Ayo Aribarni mengaku sangat terkejut dengan penetapan putranya sebagai tersangka. Kondisi tersebut bahkan mengharuskannya mencari pertolongan medis akibat stres berlebihan. Dia berkata: “Mereka membawa saya ke rumah sakit dan memberi saya oksigen karena saya tidak tega melihat anak saya dalam kondisi seperti ini.”
Aribarni menilai tudingan terhadap putranya tidak beralasan. Ia mengatakan, dengan kondisi Agus yang sepenuhnya bergantung padanya, sulit membayangkan putranya melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut.
“Kalau anak saya normal, mungkin tuduhan itu wajar, tapi dalam hal ini dia harus dibantu dalam segala aktivitasnya,” tambah Aribarni.
Read More : Aqua Konservasi Anggrek di Boyolali yang Hampir Punah Saat Erupsi Merapi
Sebagai seorang ibu, Aribarni berharap kasus dugaan pelecehan seksual Agus cepat selesai, adil, dan transparan. Ia pun meminta bantuan berbagai pihak untuk membebaskan anaknya agar bisa melanjutkan kehidupan seperti biasa.
“Saya berharap anak saya bisa kembali kuliah, bermain gamelan seperti biasa, dan hidup bebas dari stigma masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Aribarni mengaku dampak penetapan Agus sebagai tersangka kasus pelecehan seksual ini telah merugikan kehidupan keluarganya. Ia merasa tidak nyaman bepergian karena ketertarikan masyarakat terhadap keluarganya. “Ke mana pun kami pergi, kami merasa tidak nyaman. Orang-orang banyak membicarakan anak saya,” keluhnya.