Jakarta, Beritasatu.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan tekanan terhadap mata uang internasional masih berlanjut hingga April 2024. Indeks nilai tukar dolar terhadap mata uang utama (DXY) menguat signifikan hingga mencapai level tertinggi sejak 16 April di angka 106,25. 2024. Dolar AS mengalami apresiasi sebesar 4,86% dibandingkan akhir tahun 2023.

Read More : Skema Co-Payment Bisa Jaga Tarif Premi Asuransi Tetap Terjangkau

Perkembangan ini berdampak pada seluruh mata uang dunia, termasuk rupee, kata Menteri Keuangan Sri Mulani Andrawati pada konferensi pers hasil KSSK sesi kedua tahun 2024).

Pada 26 April 2024, yen Jepang turun 10,92% year to date, sedangkan won Korea turun 6,34% dan baht Thailand turun 7,63%. Rupee pun terdepresiasi sebesar 5,02% sepanjang tahun ini.

Sri Mulani yang juga Ketua KSSK mengatakan, โ€œBank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar dengan instrumen moneter.โ€

Sri Mulani mengatakan, hingga 28 Maret 2024 terjadi depresiasi nilai tukar Rupee sebesar 2,89%. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan mata uang lain seperti Baht Thailand (6,41%) dan Ringgit Malaysia (2,97%).

Read More : Transaksi Pasar Aset Kripto Indonesia Bisa Mencapai Rp 800 Per Tahun

Kinerja rupiah mendukung stabilnya kebijakan Bank Indonesia dan surplus neraca perdagangan barang, ujarnya.

Pada akhir Maret 2024, cadangan devisa mencapai $140,4 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini lebih tinggi dari tingkat kecukupan internasional yang berkisar sekitar 3 bulan impor.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *