Jakarta, Beritasatu.com – Presiden PT Bank Rakyat Indonesia Tabik (BRI) Sunarso memperkirakan kemenangan Donald Trump pada Pilpres AS 2024 bisa memberikan tekanan pada perekonomian domestik dan internasional.

Read More : 8 Tips Haji Aman bagi Penderita GERD

Hal ini karena kebijakan proteksionis yang kemungkinan besar akan kembali diterapkan oleh Trump.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisioner 6 DPR di Jakarta, Rabu (13/13), Sunarso mengatakan: “Pendekatan yang lebih proteksionis akan menyebabkan perdagangan AS menurun sekitar 8,5% yang dapat berdampak pada negara mitra dagang.” 11/2204).

Selanjutnya, simulasi yang dilakukan oleh BRI Economist Group menunjukkan bahwa kebijakan proteksionisme Trump dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi di AS, yang dapat menyebabkan kenaikan suku bunga Fed dari bank sentral AS.

Selain itu, Sunarso menegaskan ketegangan perdagangan antara AS dan China yang dipicu oleh kebijakan Trump akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan analisis BRI, jika perang dagang AS-Tiongkok terus berlanjut dan aksi balasan Tiongkok terus berlanjut, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan turun dari 4,73% menjadi 5,03% pada tahun 2025. Jika eskalasi perselisihan dagang ini melibatkan negara lain, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan meningkat. turun dari 4,62% ​​menjadi 4,92%.

Sunarsom juga menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia lebih dekat dengan Tiongkok dibandingkan dengan AS, dengan korelasi sebesar 0,351 untuk Tiongkok dan 0,347 untuk AS.

Read More : BI Rate Berpotensi Ditahan Mengikuti Arah The Fed

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi yang terjadi di Tiongkok memberikan dampak yang signifikan terhadap Indonesia. Ia mengingatkan, perbankan harus siap menghadapi risiko tersebut dan menekankan pentingnya tindakan pencegahan yang dilakukan pemerintah.

Sejalan dengan itu, Direktur PT Bank Negara Indonesia TBIC (BNI) Roy Tumilar menilai kebijakan proteksionisme Trump akan memperkuat likuiditas global dan domestik.

Hal ini diperkirakan akan menambah tantangan perluasan sektor perbankan pada tahun depan, terutama karena suku bunga masih tinggi.

“Karena tren (penurunan) suku bunga tampaknya sulit, nilai tukar mata uang dan tekanan perekonomian pada tahun 2025 akan menjadi beban besar bagi perbankan dalam negeri,” lapor Roic.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *