Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah terus mendorong para pelaku usaha untuk memperkuat sektor pertanian di Indonesia agar menjadi tumpuan pembangunan negara. Oleh karena itu, P.T. Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBK (BRI) berkomitmen memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor pertanian melalui program Klaster My Life.
Read More : Ulang Tahun Al Ghazali Ke-27, Maia Estianty Berharap Anak Pertamanya Segera Menikah
Cerita menarik juga datang dari klaster usaha binaan BRI yakni Ungaran Center, klaster pertanian alpukat. Agus Riadi, Ketua Klaster Pusbikat, mengatakan nama Pusbikat merupakan akronim dari Pusat Pemasaran dan Edukasi Budidaya Alpukat (Pusbikat) di Desa Baran Gembongan, Semarang.
“Awalnya perpustakaan ini hanya mencakup satu kawasan dalam satu lingkungan, namun kemudian berkembang menjadi sebuah desa,” ujarnya saat mengikuti pasar Klaster My Life di BRI Park (15/11/2024).
Petani alpukat yang ada di wilayahnya sendiri, Desa Baran Gembogan, Desa Baran, Kecamatan Ambarawa, berjumlah 20 orang. Para petani ini dinilai mampu menghasilkan alpukat unggul lokal yang terkenal kualitasnya. Alpukat asal daerah ini memiliki tekstur daging yang lembut, rasa yang nikmat dan kandungan nutrisi yang tinggi.
Awalnya, pada tahun 2011, Agus menanam 2 pohon alpukat. Ketika panen akhirnya berhasil, masyarakat sekitar pun tertarik menjadi petani alpukat. Agus berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat buah alpukat serta memberikan informasi mengenai budidaya dan perawatan tanaman. Dengan adanya Pusbikat diharapkan Desa Baran Gembongan dapat menjadikan buah alpukat sebagai simbol desa yang berdaya saing tinggi dan diminati masyarakat luas.
Kisah mereka dengan BRI dimulai pada tahun 2020 ketika mereka mengakses modal Kredit Usaha Rakyat (KUR). Modal tersebut ia gunakan untuk mengembangkan usahanya dan mengembangkan perkebunan alpukat miliknya. Agus mempelajari semuanya mulai dari benih, persiapan tanaman, penanaman, perawatan hingga pemasaran langsung dari awal.
Hasilnya, budidaya pohon alpukat bisa menghasilkan hasil panen yang melimpah, meski hasil panennya tidak selalu bisa diprediksi. Dengan harga jual rata-rata Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram, jika panen bagus maka panennya bisa melimpah, mencapai 1-2 ton per hari. Panen alpukat biasanya 3 kali dalam setahun.
Usai mengikuti pemberdayaan program Klaster My Life BRI, August mengaku mendapat banyak manfaat, yakni membantunya memperluas networking.
“Tentunya kita mendapatkan lebih banyak pengalaman, relasi dan semakin terinspirasi. Keuntungannya tidak selalu dalam bentuk uang, tapi juga dalam bentuk promosi produk dan branding yang nantinya mampu menghasilkan koneksi untuk keberlangsungan usaha,” ujarnya. .
Ke depan, Aegus akan terus mengembangkan klaster perpustakaan umum dengan memperluas mitranya baik pengusaha lokal maupun petani daerah.
Read More : Dimulai 2 Maret, Ini Nama Pembalap Peserta MotoGP 2025
“Karena tujuan kami meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mengajarkan budidaya alpukat yang bisa dilakukan di depan rumah, di halaman belakang dan tidak memerlukan perkebunan,” ujarnya.
Ia juga berharap BRI terus memberikan dukungan kepada petani terutama dari segi permodalan agar bisa digunakan untuk pengiriman produk alpukat ke wilayah-wilayah di Indonesia.
Pada kesempatan lain, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan BRI berkomitmen mendukung dan memberdayakan UMKM melalui program Klaster My Life.
“Kami berkomitmen untuk mendukung dan membantu UMKM tidak hanya dalam bentuk permodalan usaha tetapi juga melalui pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya, sehingga UMKM dapat tumbuh dan semakin tangguh,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran My Life Cluster sangat bermanfaat bagi kelompok usaha untuk mendapatkan dukungan program pemberdayaan.
“Semoga apa yang ditampilkan oleh klaster usaha ini menjadi kisah inspiratif dan motivasi yang dapat ditiru oleh klaster usaha lain di berbagai sektor,” kata Supari.