JAKARTA, Beritasatu.com – Pakar hukum pasar modal Kuku Paganko menilai proses penawaran umum perdana (IPO) kerap menghadapi kemacetan lalu lintas. Ia juga meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbaiki infrastrukturnya untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Read More : 7.000 Sumur Migas UMKM Diprediksi Hasilkan 15.000 Barel Per Hari

“BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus melihat hal ini lebih luas,” kata Kukuh, Senin (30/9/2024).

Menurut Kukuh, CEO Investor Muda Indonesia Muhammad Hakiki, pasar modal merupakan platform yang memfasilitasi permintaan investasi dalam negeri, sehingga jumlah emiten menjadi faktor kuncinya.

“Investor yang ingin berinvestasi punya banyak pilihan. “Ini benar-benar meningkatkan semangat berinvestasi,” kata Hakiki.

Hakiki menilai bertambahnya jumlah emiten telah meningkatkan modal perdagangan saham. Ia menilai hal tersebut merupakan indikator yang sehat dan menunjukkan bahwa pasar modal di Indonesia masih hidup.

Sebaliknya, dia menilai penundaan penambahan emiten baru akan mempengaruhi gairah perdagangan saham.

Hakiki mengatakan ada 20 emiten potensial yang membatalkan niatnya untuk IPO. Hal ini diyakini karena tertundanya proses IPO.

Read More : Bangun PLTP-PLTS di 15 Provinsi, Indonesia Menuju Kemandirian Energi

“BEI harus memikirkan hal ini secara matang. Kami sudah memiliki proses yang tepat bagi perusahaan untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Saya tidak mengerti mengapa add-on saat ini ditangguhkan. “Memperbaiki sistem itu bagus, tapi jangan sampai menghambat proses IPO calon emiten,” jelas Hakiki.

Menanggapi hal tersebut, Analis Pasar Modal Ali Yusni Sahri menilai situasi pasar modal nasional juga dipengaruhi oleh perekonomian global yang berdampak pada perekonomian Indonesia.

“Ini pasti akan mempengaruhi pasar modal kita. Situasi dunia kini berada dalam kondisi instabilitas, terutama jika kondisi geopolitik di Eropa dan Timur Tengah semakin memanas. BEI harus membaca hal ini dan melakukan perbaikan agar penambahan rilis baru tidak terlalu terpengaruh. Masalahnya,” kata Ali.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah normalisasi proses IPO, dan hal itu hanya bisa dilakukan jika BEI mengedepankan aktivitas profesionalnya,” pungkas Ali. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *