Jakarta, Beritasatu.com – Belakangan ini kata pernikahan lavender ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya Tikto. Tapi apa sebenarnya arti pernikahan lavender?

Read More : Lebih Murah dari Wuling Air EV, VinFast Hadirkan Minio dengan Harga Diprediksi di Bawah Rp 150 Juta

Pernikahan lavender adalah pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita yang salah satu atau kedua belah pihak adalah gay atau biseksual. Pernikahan ini bukan didasari cinta, melainkan sebagai upaya menyembunyikan orientasi seksualnya.

Sederhananya, pernikahan lavender adalah pernikahan di mana kedua belah pihak sepakat untuk menyembunyikan orientasi seksualnya.

Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pernikahan antara aktor dan aktris Hollywood yang tidak dapat mengungkapkan orientasi seksual mereka secara terbuka untuk melindungi karier dan reputasi mereka.

Namun, peristiwa penting dalam sejarah komunitas LGBTQ+, seperti Kerusuhan Stonewall tahun 1969, yang ditandai dengan serangkaian protes kekerasan terhadap penggerebekan polisi di Stonewall, telah membawa perubahan signifikan. Setelah kerusuhan tersebut, perjuangan untuk hak dan pengakuan komunitas LGBTQ+ dimulai.

Seiring berjalannya waktu, dan dengan semakin diterimanya hubungan sesama jenis, praktik pernikahan lavender mulai menurun. Namun, hubungan sesama jenis masih dianggap tabu di beberapa budaya, khususnya di Asia dan Asia Selatan.

Bagi sebagian individu, pernikahan lavender masih dianggap efektif sebagai perlindungan terhadap tekanan sosial. Penelitian Ilan H. Meyer bertajuk โ€œPrasangka, Stres Sosial, dan Kesehatan Mental pada Populasi Lesbian, Gay, dan Biseksualโ€ menemukan bahwa kelompok LGBTQ+ seringkali mengalami tekanan sosial, prasangka, dan permusuhan yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Read More : Hantavirus Mewabah di 4 Provinsi, Akankah Jadi Next Pandemi?

Beberapa orang bahkan percaya bahwa pernikahan lavender dapat menyembuhkan gairah seks mereka. Namun pernikahan seperti itu seringkali menimbulkan dampak negatif, seperti stres yang tinggi. Konflik internal yang terjadi dapat berujung pada stres, kecemasan, depresi bahkan krisis identitas.

Selain itu, pasangan yang melakukan pernikahan lavender sering kali merasa terisolasi secara sosial karena mereka merasa tidak cocok dengan dunianya. Perasaan terisolasi ini bermula dari kebutuhan untuk menyembunyikan identitas seseorang.

Kesimpulannya, pernikahan lavender mencerminkan cara individu menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang ada. Namun, praktik ini semakin menurun seiring dengan meningkatnya kesadaran dan penerimaan terhadap keberagaman.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *