Jakarta, Beritasatu.com – Pada September 2023, Bappenas mengumumkan biaya logistik Indonesia mencapai 14,29% PDB, turun signifikan dari 23,80% pada tahun 2018. Pemerintah menargetkan penurunan biaya tersebut menjadi 8% pada tahun 2045. Sebagai langkah konkritnya, Pelindo, salah satu perusahaan logistik milik negara, terus mendorong percepatan transformasi pelabuhan.

Read More : Sesi Siang Perdagangan Rabu 24 April 2024, IHSG Bertambah 57 Poin

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Indonesia masih memiliki biaya logistik yang tinggi dibandingkan negara lain. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk mendukung swasembada pangan, energi, dan underflow, saya terus berkoordinasi agar biaya-biaya tersebut dapat ditekan, kata Erick usai bertemu dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada 29 Oktober 2024.

Kolaborasi Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan fokus pada peningkatan efisiensi sektor transportasi. Transformasi Pelindo melalui standardisasi dan digitalisasi diharapkan dapat mempercepat layanan kepelabuhanan dan memperkuat konektivitas logistik nasional.

Efisiensi pelayanan pelabuhan dapat dilihat dari port Dwell Time yaitu lamanya kapal berlabuh di pelabuhan tersebut. Dengan layanan bongkar muat yang lebih cepat, lama tinggal di pelabuhan berkurang secara signifikan. Hal ini juga meningkatkan waktu berlayar kapal, sehingga menghemat biaya operasional hingga 15-30% per siklus pengangkutan.

Di Cabang Sorong, standarisasi operasional petikemas telah meningkatkan produktivitas bongkar muat dari 17 BSH (Boxes per Vessel Hour) menjadi 30 BSH, sedangkan waktu tunggu di pelabuhan menurun dari 72 jam menjadi 24 jam. Transformasi layanan containerless di Cabang Jamrud-Nilam-Mirah Surabaya mengurangi waktu tunggu pelabuhan untuk kargo curah cair hingga 30% dan kargo curah kering hingga 22%.

General Manager Pelindo, Arif Suhartono menjelaskan, digitalisasi layanan pelabuhan memungkinkan pengendalian arus barang lebih baik melalui sistem yang terintegrasi. Pelindo berkomitmen menciptakan ekosistem logistik yang efisien dengan fokus mengurangi keterlambatan pelabuhan, jelasnya.

Read More : Rekomendasi 8 Tempat Wisata Alam di Yogyakarta Selain Pantai

Efisiensi ini berbanding lurus dengan perbaikan operasional Pelindo. Hingga November 2024, arus kargo pelabuhan mencapai 181,2 juta ton, naik 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Arus peti kemas juga meningkat sebesar 6,4% menjadi 17,1 juta TEU, dengan 46% merupakan ekspor dan impor.

Transformasi Pelindo disambut baik oleh perusahaan pelayaran, termasuk Meratus Line. Kepala Eksekutif Slamet Raharjo mengatakan transformasi tersebut membuat komunikasi dan proses bongkar muat menjadi lebih mudah melalui satu pintu sehingga berdampak pada efisiensi waktu dan biaya.

Pelindo terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan, energi, dan hilirisasi pemerintah serta menurunkan biaya logistik nasional demi daya saing Indonesia di pasar global.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *