Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pembangunan Ekonomi dan Keuangan (Indef) menyebut keputusan pemerintah menghentikan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi karena penyalurannya tidak direncanakan.
Read More : Airlangga Hartarto Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2024 Tembus 5,2 Persen
Ekonom Indef, Tawhid Ahmad, mengatakan ke depan, pemerintah perlu meningkatkan distribusi dan mengurangi jenis kendaraan yang menggunakan bahan bakar bersubsidi, khususnya roda empat.
“Ketidakakuratan indikator penyaluran BBM sangat tinggi sehingga upaya preventif membantu mencari masyarakat yang berhak menerima subsidi dan tidak,” ujarnya di Gedung DPR, Rabu (10/7/2024).
Tauheed menambahkan, saat ini biodiesel dan pertalite sudah masuk dalam subsidi. Jika BBM jenis ini disalurkan kepada masyarakat miskin, harus ada rujukan yang jelas kepada masyarakat penerima.
“Misalnya seseorang berhak mendapat bantuan keuangan jika ia termasuk masyarakat miskin, maka bisa dibuktikan dengan KTP dan sebagainya,” jelas Tauhid.
Ia mengatakan, masyarakat yang menggunakan mobil tidak boleh menggunakan bahan bakar bersubsidi. Namun, dia menekankan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi sebaiknya dilakukan secara bertahap.
“Mungkin bisa pakai sepeda motor, tapi roda empat sudah bukan pilihan lagi. Menurut saya, itu cara yang paling mungkin untuk berhemat,” kata Tawheed.
Read More : Pemerintah Perlu Aktif Gaet Investasi untuk Capai Ketahanan Pangan
Sebelumnya, Menteri Penghubung Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan mengurangi pembatasan BBM bersubsidi mulai 17 Agustus 2024.
Langkah ini diambil untuk mengurangi penyaluran BBM bersubsidi yang tidak sesuai peruntukannya dan sebagai langkah mengurangi pencemaran udara akibat penggunaan BBM bersubsidi.
“Pertamina sedang mempersiapkan subsidi tak terduga pada 17 Agustus 2024 agar kita bisa menekan jumlah masyarakat yang tidak berhak menerima subsidi,” ujarnya.
Jika pemerintah bisa mengurangi penggunaan bahan bakar bersubsidi, hal ini akan berdampak positif pada sektor pelayanan kesehatan. Sebab, pengurangan lemak dukung akan berdampak pada penurunan jumlah penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).