Jakarta, Beritasatu.com – Diabetes merupakan penyakit yang terjadi di seluruh dunia. Pada tahun 2021, International Diabetes Federation (IDF) mencatat 578 juta orang berusia antara 20 dan 79 tahun menderita diabetes.
Read More : DPR: PPN 12 Persen Masih Wacana, Bakal Dibahas Sepulang Prabowo ke Indonesia
Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2030 dan 763 juta pada tahun 2045. Kebanyakan penderita diabetes berada di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Setiap lima detik, satu orang meninggal karena diabetes.
Indonesia akan memiliki sekitar 19.456 kasus diabetes pada tahun 2021, menjadikannya negara kelima dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya.
Penyebab Diabetes Diabetes terjadi karena pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif.
Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengontrol kadar glukosa darah. Makanan yang mengandung karbohidrat diubah menjadi glukosa, yang didistribusikan ke seluruh tubuh melalui darah.
Kadar glukosa yang tinggi merangsang pankreas untuk memproduksi insulin, yang membantu mengubah glukosa menjadi energi.
Diabetes yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan hiperglikemia, suatu kondisi dimana kadar glukosa darah meningkat dan tidak terkontrol sehingga dapat merusak saraf dan pembuluh darah.
Jenis-Jenis Diabetes 1. Diabetes tipe satu merupakan jenis diabetes yang jarang terjadi namun memerlukan pengobatan khusus. Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang pankreas sehingga menyebabkan produksi insulin terhenti total. Penyakit ini biasanya ditemukan pada anak-anak dan remaja.
Perawatan melibatkan suntikan harian atau pompa insulin. Hingga saat ini, penyebab dan pencegahan diabetes tipe 1 belum sepenuhnya dipahami.
2. Diabetes Tipe Dua Tipe ini lebih umum terjadi dan mempengaruhi cara tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Tubuh menjadi kurang efisien dalam menggunakan insulin sehingga menyebabkan kadar gula darah tetap tinggi. Jika tidak ditangani, hal ini dapat merusak saraf dan pembuluh darah.
Gejala umum diabetes tipe dua antara lain rasa haus yang berlebihan, peningkatan frekuensi buang air kecil, penglihatan kabur, kelelahan, dan penurunan berat badan secara tiba-tiba.
Read More : Mantan Gitaris Seventeen Hendro Jarot Nugroho Meninggal Dunia
Faktor risiko diabetes tipe dua antara lain obesitas, kurang aktivitas fisik, dan faktor genetik.
Menjaga kesehatan melalui pola makan seimbang, olahraga teratur, dan pemantauan kesehatan secara teratur dapat membantu mencegah dan mengelola diabetes.
Mendeteksi diabetes Jika Anda mengalami gejala diabetes, penting untuk segera memeriksakan diri ke pusat kesehatan. Tes utama untuk mendeteksi diabetes adalah mengukur kadar gula dalam darah. Berikut adalah beberapa tes umum untuk mendeteksi diabetes, seperti dikutip oleh CDC.
1. Tes acak Tes ini mengukur kadar gula dalam darah tanpa memandang waktu atau puasa sebelumnya. Jika kadar glukosa Anda lebih besar dari 200 mg/dl, Anda mungkin menderita diabetes.
2. Puasa Tes ini dilakukan setelah puasa semalaman, biasanya pada pagi hari. Kadar glukosa normalnya berada di bawah 99 mg/dL. Jika kadar glukosa Anda antara 100-125 mg/dL, Anda mungkin menderita pradiabetes. Kadar di atas 126 mg/dL mengindikasikan diabetes.
3. Tes toleransi glukosa Setelah puasa semalaman, kadar glukosa diukur dan kemudian larutan glukosa diminum. Setelah dua jam, kadar glukosa diukur kembali. Kadar di bawah 140 mg/dL dianggap normal, 140-199 mg/dL menandakan pradiabetes, dan di atas 200 mg/dL menandakan diabetes.
4. Tes HbA1c Tes ini mengukur rata-rata kadar gula dalam darah selama tiga bulan terakhir. Hasil di bawah 5% dianggap normal, 5,7-6,4% menunjukkan pradiabetes, dan di atas 6,5% menunjukkan diabetes.
Melakukan tes ini secara rutin sangat penting untuk mendeteksi diabetes sejak dini, terutama jika Anda memiliki faktor risiko atau memiliki gejala awal.