Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas pada perdagangan Rabu (7/8/2024) datar meski naik pada perdagangan datar. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar dan tekanan pada imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada bulan September dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendukung harga emas.

Read More : Industri Facility Management Indonesia Lebih Baik dari Vietnam dan Kamboja

Emas stabil di $2,388.16 per ounce pada Kamis (8/8/2024), menurut laporan Reuters. Sementara itu, emas berjangka AS tidak berubah pada $2,432.40 per ounce.

Dolar AS naik 0,2% terhadap mata uang utama lainnya. Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor 10-tahun juga meningkat sehingga memberikan tekanan pada harga emas.

โ€œSaya pikir mungkin ada koreksi jika data ekonomi menunjukkan kekhawatiran resesi memang beralasan. Namun, harga emas akan mencapai rekor tertinggi baru dalam beberapa bulan mendatang,โ€ ujarnya.

Laporan pekerjaan yang lemah minggu lalu membuat para pedagang turun sekitar 105 poin pada akhir tahun dan diskon 100% pada bulan September.

Read More : Berseteru dengan Nikita Mirzani, Razman Arif Nasution Sebut Lolly Butuh Orang Tua yang Tidak Mudah Emosi

Pada Selasa (8/6/2024), pemimpin Hizbullah mengatakan dia akan merespons dengan kuat dan efektif atas pembunuhan komandan militernya oleh Israel pekan lalu, apa pun konsekuensinya. Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dan cenderung menguat pada suku bunga rendah.

โ€œPengangguran akan menjadi fokus pasar pada Kamis (8/8/2024) untuk mengonfirmasi angka ekonomi yang turun,โ€ kata Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *