Jakarta, Beritasatu.com – Kehadiran mobil listrik kini menjadi bagian nyata dari industri mobil dunia. Dampak paling signifikan dari kehadiran mobil listrik terlihat di Tiongkok.

Read More : Menag Ajak Tebar Cinta Kasih pada Momen Natal 2024

Menurut Carscoops, Kamis (2/1/2025), China telah melihat perubahan besar di dunia otomotif dalam beberapa tahun terakhir. Dominasi mesin pembakaran bensin (ICE) terus tergeser oleh penjualan kendaraan listrik, plug-in, dan hybrid.

Pada tahun 2025, penjualan mobil listrik diperkirakan akan melebihi penjualan mobil berbahan bakar fosil untuk pertama kalinya.

Beberapa lembaga investasi terkemuka, antara lain UBS, HSBC, Morningstar, dan Wood Mackenzie memperkirakan penjualan mobil listrik di China bisa mencapai 12 juta unit pada tahun 2024, naik 20% dari tahun 2023.ย 

Sebaliknya, penjualan mobil berbahan bakar fosil diperkirakan turun menjadi 11 juta unit atau turun sekitar 10%.

Jika prediksi ini benar, mobil listrik tidak hanya akan melampaui mobil berbahan bakar fosil, namun juga melampaui target pemerintah. Pemerintah Tiongkok sebelumnya menyatakan bahwa mobil listrik akan menyumbang 50% dari penjualan mobil baru pada tahun 2035, namun tren saat ini mungkin menunjukkan target tersebut 10 tahun sebelumnya.

Data Financial Times menjelaskan, setelah melewati titik crossover pada tahun depan, penjualan kendaraan listrik diperkirakan akan terus tumbuh hingga mencapai lebih dari 18 juta unit pada tahun 2034. Sementara itu, penjualan mobil berbahan bakar fosil diperkirakan turun menjadi hanya sekitar 2,93 juta unit.

Penjualan kendaraan pengiriman hibrida diperkirakan mencapai puncaknya pada 4,39 juta unit pada tahun 2025 dan selanjutnya tumbuh menjadi 6,05 juta unit pada tahun 2033. Sementara itu, hibrida konvensional diperkirakan akan tetap berada pada kisaran 730.000 hingga 1 juta unit dalam satu dekade. .

Namun, meski pertumbuhan kendaraan listrik sangat menjanjikan, persaingan di pasar ini semakin ketat. Banyak merek diperkirakan akan terpaksa keluar dari pasar karena tekanan persaingan, konsolidasi, dan perang harga yang intens.

Read More : Paula Verhoeven Pergi Umrah Sendiri karena Baim Wong Sibuk

โ€œMeskipun industri kendaraan listrik Tiongkok berkembang pesat, masih terdapat tantangan seperti perluasan basis yang tinggi, banyaknya model, dan persaingan harga,โ€ kata analis HSBC Yuqiang Ding.

Namun dominasi mobil listrik di China tidak bisa dihentikan, tambahnya.

Saat ini persaingan bukan lagi soal ekspansi, melainkan siapa yang mampu bertahan dengan menawarkan mobil listrik berkualitas dengan harga bersaing.

Pabrik-pabrik yang memproduksi mobil berbahan bakar fosil juga kehilangan sebagian besar pasar domestiknya akibat perubahan ini.ย 

Merek asing juga akan merasakan dampaknya, pangsa pasar mereka di Tiongkok turun menjadi hanya 37% pada tahun 2024, dibandingkan dengan 64% pada tahun 2020.

Hal ini menunjukkan bahwa preferensi konsumen di Tiongkok semakin condong ke arah mobil listrik produksi lokal, sehingga memberikan banyak tekanan pada pabrikan Jerman, Jepang, dan Amerika.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *