JAKARTA, Beritasatu.com – Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) mengungkapkan ratusan industri pengolahan kelapa di Indonesia tutup akibat meningkatnya ekspor kelapa mentah. Banyak industri juga berhenti berfungsi.
Read More : Bank Mandiri Kolaborasi dengan Lippo Group Perluas Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Hipki Erwan, Wakil Direktur Briket, Batubara, dan Karbon Aktif, mengatakan industri pengolahan kelapa paling terdampak oleh industri briket yang membutuhkan bahan baku kelapa.
Erwan mencontohkan, jumlah industri briket di Indonesia pada tahun 2023 berjumlah sekitar 500 pabrik, namun industri briket terpuruk dan jumlahnya menurun hingga 50%.
Menurutnya, salah satu faktor utama penyebab ratusan terpuruknya industri pengolahan kelapa adalah terkait sistem tata niaga kelapa khususnya di Indonesia yang menyebabkan ekspor bahan mentah tidak terkendali.
Keadaan ini berdampak pada pasokan kelapa mentah dalam negeri yang berkurang drastis sehingga mengakibatkan industri pengolahan kelapa tidak mampu menghasilkan produk kelapa terbaik sehingga menimbulkan kerugian.
“Saat ini pabrik (pabrik briket) ada sekitar 200-250 dan sisanya tutup. Saat ini pekerja sedang bertugas di pabrik saya, utilisasinya sekitar 20%. Namun kami hanya memproduksi untuk selanjutnya. 1-2 bulan, karena bahan bakunya belum,” kata Erwan di Jakarta, Rabu (18/12/2024).
Erwan menjelaskan, jika ekspor kelapa bisa dikendalikan untuk memasok kelapa dalam negeri, petani bisa memanfaatkan sabut kelapa untuk membeli industri briket dan industri karbon aktif. Namun keadaan tersebut tidak terjadi karena banyaknya ekspor kelapa ke luar negeri.
Catatan HIPKI, saat ini terdapat larangan ekspor kelapa ke berbagai negara, khususnya China, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Situasi ini juga mengurangi pasokan kelapa sehingga menyebabkan harga kelapa naik sehingga merugikan petani dan industri.
Berdasarkan perhitungan Hipki, harga satu buah kelapa dulu berkisar Rp 6.000-an, kini menjadi Rp 12.000-an.
Read More : Jemaah Haji Sujud Syukur Saat Tiba di Asrama Haji Lampung
“Kita memberikan keuntungan kepada petani yang mengambil daging kelapa, yang membakar sabutnya. Setelah kita bakar, baru dibeli oleh pengepul dan dijual ke pabrik kita. Jadi kalau bisa kita maksimalkan dampaknya luar biasa. Otomatis.” Dampak ekonominya bisa dan akan tumbuh di tingkat petani,” kata Erwan.
Catatan Hippi menunjukkan bahwa industri pengolahan kelapa menghadapi pengurangan operasi sebesar 20%-30% dan berada di ambang penghentian operasi.
Hipkey dan Erwan mengatakan pemerintah akan memperbaiki sistem tata niaga kelapa, termasuk pengendalian ekspor bahan mentahnya. Hal ini penting untuk mempertahankan kinerja industri pengolahan kelapa dan meningkatkan dampak ekonominya.
Menurut Erwan, pemerintah harus mencari solusi secepatnya. Usulan yang diajukan Hippy antara lain bisa berupa penerapan moratorium ekspor kelapa 3-6 bulan ke depan, penetapan PE (pembatasan ekspor) atau kuota ekspor.
. Kami berpisah, dan “pada akhirnya, kami harus mengakhiri hubungan kerja kami,” tutupnya.