JAKARTA, Beritasatu.com – Ketua Departemen Advokasi Guru Asosiasi Pendidikan dan Guru Iman Zanatul Haeri mengatakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Penelitian dan Keterampilan (Mendikbud Ristek) Nadeem Makkari Banyak rencana Nadiem Makarim yang tidak terlaksana secara maksimal. Salah satunya adalah program “mobilisasi guru”.
Read More : AS Batalkan Hadiah Penangkapan Pemimpin Baru Suriah
Mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla sebelumnya menggambarkan Nadeem sebagai menteri yang tidak memahami sektor pendidikan karena tidak memiliki latar belakang di bidang tersebut dan kurang memperhatikan isu-isu lokal.
Iman Zanatul Haeri berpendapat, program mobilisasi guru sebenarnya untuk membantu guru mensosialisasikan kursus mandiri yang sulit dipahami oleh banyak guru di Indonesia. Namun, Iman melihat ada beberapa permasalahan dalam kebijakan tersebut.
“Program mobilisasi guru untuk memperkuat profesionalisasi guru justru mengalami ketimpangan. Anggaran program ini sangat besar, sekitar 3 triliun rupiah, sedangkan undang-undang pendampingan sangat kecil, hanya beberapa ratus miliar rupiah,” kata Senin (2024). acara “Beritasatu Utama” tayang di BTV pada tanggal 9 September 2019.
Ia menilai besarnya anggaran untuk program mobilisasi guru tidak sebanding dengan manfaat yang dirasakan.
“Biaya per guru untuk pelatihan guru mengemudi berkisar Rp19 juta hingga Rp21 juta. Namun, guru yang mengikuti program tersebut tidak bisa dianggap ahli tanpa pelatihan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang tepat,” jelasnya.
Iman juga menyoroti kesenjangan antara kebijakan dan kenyataan.
Read More : Waspada, YouTube Dijadikan Platform Tutorial Rekayasa Foto Porno Bermodal Kecerdasan Buatan
“Saat ini ada sekitar 1,6 juta guru yang menunggu untuk dilatih di PPG, namun program seperti PPG yang mengharuskan siswa menggunakan aplikasi buatan Nadiem justru menimbulkan ketidakpuasan di kalangan guru,” tambahnya.
Ia bercerita, ada beberapa guru yang kelelahan mengikuti program PPG online.
“Ini harus menjadi wake up call bagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk lebih memahami akar permasalahan pendidikan kita,” ujarnya.