Jakarta, Beritasatu.com – Saham-saham perdagangan Wall Street melemah di Amerika Serikat (AS), Selasa (17/12/2024) Dow Jones Industrial Average mencetak rekor baru dengan penurunan sembilan hari berturut-turut, menjadi yang terpanjang. Tren sejak tahun 1978.
Read More : PNM Raih Dua Penghargaan Bergengsi di Merdeka Award 2024
Seperti dikutip CNBC International, Rabu (18/12/2024), Dow Jones ditutup melemah 267,58 poin (0,61%) pada 43.449,90. Indeks S&P 500 merosot 0,39% nilainya, berakhir pada 6.050,61, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,32% menjadi 20.109,06.
Penurunan Dow Jones Industrial Average terjadi setelah indeks melampaui angka 45.000 untuk pertama kalinya pada bulan ini. Meski demikian, pasar saham secara keseluruhan masih menunjukkan tren positif. S&P 500 mencapai puncaknya pada 6 Desember dan saat ini berjarak kurang dari 1% dari level tersebut. Nasdaq pun mencapai level tertinggi baru pada Senin (16/12/2024).
Tekanan pada Dow Jones disebabkan oleh rotasi sektor, karena investor mulai mengalihkan fokus mereka ke saham-saham teknologi setelah Donald Trump menjadi presiden terpilih AS, meninggalkan saham-saham tradisional yang naik signifikan pada awal November
Nvidia yang baru bergabung dengan Dow pada November lalu juga menjadi sorotan seiring pelemahan Wall Street. Meski sektor teknologi secara keseluruhan menguat, Nvidia justru menghadapi tantangan yang lebih berat, bahkan memasuki fase koreksi pada Senin lalu.
Saham Tesla membukukan keuntungan pada hari Selasa, sementara Broadcom membukukan penurunan tajam hingga 3,9%.
David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, mengatakan banyak investor mulai menyadari bahwa dampak pemerintahan Donald Trump mungkin tidak positif terhadap pasar saham seperti yang diharapkan.
Read More : Jalur Cianjur ke Sukabumi dan Puncak Rawan, Pemudik Diminta Waspada
โMeskipun sektor keuangan dan industri telah tumbuh sejak kemenangan Trump, mereka kini menghadapi risiko kenaikan suku bunga dan ketidakpastian perdagangan. Sektor layanan kesehatan juga menghadapi risiko politik yang serius,โ kata Russell.
Salah satu kekhawatiran utama pasar adalah keputusan suku bunga yang akan diumumkan The Fed pada Rabu (18/12/2024). Menurut alat Fed Watch CME Group, ada peluang 95% penurunan suku bunga sebesar seperempat poin. Namun kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama risiko terjadinya bubble pasar saham atau memburuknya inflasi.
Sementara itu, dengan melemahnya Wall Street, laporan penjualan ritel bulan November menjadi berita karena menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, meningkatkan kekhawatiran bahwa penurunan suku bunga The Fed mungkin tidak diperlukan dan justru dapat memperburuk perekonomian.