Jakarta, Beritasatu.com – Setiap tanggal 6 dan 9 Agustus, dunia mengenang peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Bencana ini terjadi pada tahun 1945, menjadikan tahun 2024 sebagai hari jadinya yang ke-79.

Read More : Newcastle vs Bournemouth: The Magpies Akhirnya Tumbang, Putra Patrick Kluivert Cetak 3 Gol

Peringatan ini muncul ketika banyak negara bersiap untuk menandatangani perjanjian pelarangan senjata nuklir yang baru saja diratifikasi.

Penggunaan senjata nuklir di Hiroshima dan Nagasaki membunuh warga sipil dan tentara tanpa pandang bulu, menunjukkan dampak kemanusiaan yang sangat buruk bagi para korbannya. Akibatnya, pemerintah dunia mengadopsi perjanjian baru yang menjadikan senjata nuklir ilegal menurut hukum internasional.

Tragedi Hiroshima dan Nagasaki memicu perdebatan antar negara mengenai penggunaan senjata nuklir. Untuk menghentikan segala kegiatan yang berkaitan dengan senjata nuklir, maka dibentuklah Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) pada tanggal 7 Juli 2017.

TPNW bertujuan untuk mengontrol pengembangan, kepemilikan dan penggunaan senjata nuklir oleh negara-negara anggota. Meskipun perjanjian tersebut secara resmi mulai berlaku pada tanggal 22 Januari 2021, masih terdapat kebutuhan mendesak untuk meratifikasi dan menerapkan TPNW oleh banyak negara, terutama negara-negara yang memiliki kemampuan senjata nuklir yang signifikan dan sedang mengembangkannya.

Indonesia sangat mendukung proses perlucutan senjata melalui TPNW. Meskipun Indonesia tidak memiliki kemampuan senjata nuklir, namun persetujuan Indonesia sangat berharga dan penting bagi TPNW.

Dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, Indonesia mampu melindungi 1,34 miliar penduduknya dari ancaman perang nuklir di masa depan. Oleh karena itu, peringatan peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki menjadi dorongan kuat bagi pemerintah Indonesia untuk mengadopsi dan melaksanakan TPNW serta tindakan nyata.

Sejarah Bom Hiroshima dan Nagasaki Bom nuklir pertama dijatuhkan di kota Hiroshima, Jepang, pada tanggal 6 Agustus 1945. Bom tersebut diberi nama “Anak Kecil”, dan dibuat oleh Proyek Manhattan.

Proyek Manhattan dipimpin oleh Amerika Serikat dengan dukungan Inggris dan Kanada yang dipimpin oleh Dr. Robert Oppenheimer. Proyek ini muncul karena kekhawatiran bahwa Nazi Jerman sedang mengembangkan senjata nuklir.

Read More : Masih Ada WNI Pekerja Online Scam di Myanmar Belum Dievakuasi

Keputusan untuk menjatuhkan bom ini dibuat oleh Presiden Harry Truman, yang baru saja mengambil alih negara setelah kematian Franklin Roosevelt pada bulan April 1945.

Pada tanggal 26 Juli 1945, Deklarasi Potsdam dikeluarkan oleh Presiden Truman, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dan pemimpin Tiongkok Chiang Kai-Shek, memberikan Jepang sebuah kertas kosong.

Truman menulis tentang bom nuklir: “Kita telah melihat ledakan paling mengerikan dalam sejarah dunia. Mungkin kehancuran dahsyat yang diperkirakan terjadi pada zaman lembah Eufrat setelah Nuh dan bahteranya yang megah.”

Pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, Kolonel Paul Tibbets dan 12 awaknya lepas landas dari Tinian di Kepulauan Mariana di Samudra Pasifik menuju Hiroshima. Pukul 08.15 pagi, bom “Anak Kecil” ditembakkan. Sekitar 80.000 orang meninggal seketika, dan jumlah korban tewas diperkirakan antara 90.000 dan 100.000.

Pesawat yang membawa pembom Enola Gay kini dipajang secara permanen di Museum Dirgantara dan Luar Angkasa Amerika Serikat.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *