Banda Aceh, Beritasatu.com – Penemuan 150 pengungsi Rohingya dalam kondisi mengenaskan di kapal yang terombang-ambing di perairan Labuhan Haji, Bupati Aceh Selatan, mengungkap sisi gelap perdagangan manusia. Tragisnya, tiga nyawa melayang dalam perjalanan tersebut, Kabid Humas Polda Aceh, Kompol Joko Krisdiyanto mengungkapkan, etnis Rohingya diduga menjadi korban perdagangan manusia oleh sindikat yang memanfaatkan situasi memprihatinkan di negara tersebut. situasinya. Pengungsi Rohingya. “Mereka meninggalkan Cox’s Bazar di Bangladesh pada awal Oktober dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun berakhir dengan tragedi,” kata Joko, Rabu (23/10/2024). Joko menjelaskan, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan pelaku membeli kapal nelayan KM Bintang Raseuki untuk melakukan aktivitasnya. Kapal tersebut digunakan untuk menjemput pengungsi Rohingya di tengah laut dan membawa mereka ke Aceh Selatan. “Tiga tersangka diamankan. Para tersangka dijerat pasal perdagangan manusia dengan hukuman berat,” jelasnya. Ketiga orang yang diamankan yakni F (35), I (32) dan A (33) yang ditangkap di Pakpak Barat. Jumat (18/10/2024), Polda Sumut berhasil mengungkap jaringan penyelundupan manusia internasional setelah tiga tersangka penangkapan kriminal atas keterlibatan penyelundupan 216 pengungsi Rohingya di perairan Aceh Selatan. “Diketahui jumlah awal warga Rohingya sebanyak 216 orang, namun diduga 50 orang tiba di Pekanbaru dengan biaya Rp 20 juta,” kata Ade Harianto, Direktur Reserse Kriminal Aceh.