Mataram, Beritasatu.com – Seorang siswi SD salah satu Pondok Pesantren (Pohnpes) di Lombok Barat kritis di RSUD Lombok Timur, NI. Ia diduga menjadi korban perundungan.

Read More : Menhub: Kereta Otonom Tanpa Rel di IKN Diuji Coba 5 Agustus 2024

Kasus tersebut mencuat ke publik setelah ayah NI melaporkan kasus tersebut ke polisi. Pada Senin (24/6/2024), Kapolsek Kosatreskrim Mataram mengatakan, “Sesuai dengan pengaduan ayah korban, kami telah membentuk tim investigasi di salah satu rumah sakit di Lombok Timur.

Menurut Yogi, dari keterangan ayah NI, putrinya diduga di-bully oleh teman-temannya saat bersekolah di Pondok Pesantren Lombok Barat, salah satu pesantren di Lombok Barat.

Awalnya, teman asrama korban melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya di Lombok Timur, NI Trauma. Orang tua teman korban kemudian menjemput NI dari pesantren dan membawanya ke tempat pelatihan di Lombok Timur.

Namun kondisi NI semakin memburuk dan harus dibawa ke Puskesmas. Seminggu kemudian, orang tua NI mengunjungi putrinya dan mengaku NI dipukuli oleh temannya.

Yogi mengatakan, “Menurut pengakuan korban, kepalanya dipukul dengan balok kayu dan sajadah.

Setelah mendapat perawatan di Puskesmas, kondisi NI kembali memburuk dan harus dibawa ke rumah sakit di Mataram. NI kini menggunakan ventilator untuk membantunya bernapas.

Sementara pihak pesantren membantah tudingan penganiayaan. Salah satu petugas kebersihan pesantren menjelaskan kepada Hasanu bahwa NI Dag menderita tusukan jarum berkarat.

“Anak ini punya riwayat kesehatan dan ada semacam kista di hidungnya,” kata Hasanuddin.

Read More : Operasi Ketupat 2024 Catat 270 Kecelakaan dan 37 Orang Meninggal Dunia pada H+4 Lebaran

Hasanuddin menambahkan, teman-teman NI memperingatkannya untuk tidak meminum pil tersebut karena akan memperburuk kondisinya. Namun, NI tak peduli dan malah meremas putingnya lebih erat lagi dengan tangannya.

– Teman-temannya memperingatkan agar tidak melakukan hal tersebut karena takut penyakitnya bertambah parah dan pada Kamis sore dia mendapat pisau lagi – jelas Hasanudin.

Pihak pesantren meminta aparat penegak hukum mengusut dan jika terbukti melakukan kekerasan akan menindak tegas pelakunya.

Kita buka pintunya lebar-lebar, lihat siapa yang menghajar kita,” tegas Hasanuddin. “Kami tidak akan menutup-nutupi siapapun demi menjaga nama besar Pondok Pesantren.”

Kasus ini sedang diselidiki polisi. Tim investigasi mengumpulkan bukti dan informasi dari semua pihak untuk mengungkap kebenaran. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *