Jakarta, Beritasatu.com – Ketika kita memikirkan masa depan, kemajuan teknologi dan kehidupan yang lebih baik sering kali terlintas di benak kita. Namun, di balik harapan tersebut terdapat ancaman besar, salah satunya adalah perubahan iklim yang dapat berdampak pada situs warisan budaya terpenting dunia, termasuk Taman Nasional Subak dan Komodo di Bali.

Read More : Soroti Pendidikan Masyarakat Banten, Andra Soni Siapkan Program Sekolah Gratis

Daily Mail melaporkan pada Jumat (23/8/2024) bahwa lusinan situs warisan dunia UNESCO bisa hilang pada tahun 2050 karena dampak perubahan iklim yang semakin nyata, demikian temuan sebuah laporan baru.

Ilmuwan iklim Hasilnya, 50 tempat masuk dalam daftar tempat paling berbahaya, termasuk yang ada di Indonesia.

“Penemuan ini merupakan panggilan mendesak bagi kita semua. “Pemerintah, aktivis lingkungan hidup, dan komunitas global harus bertindak sekarang untuk melindungi planet kita dan budayanya,” kata Lukki Ahmed, CEO dan pendiri Climate X.

Situs Warisan Dunia UNESCO mencakup lebih dari 1.200 tempat yang diakui penting bagi seluruh umat manusia. Dari kuil kuno hingga keajaiban alam, tempat-tempat ini sangat berharga sehingga harus dilestarikan selamanya. Namun, laporan Climate X menunjukkan bahwa banyak dari lokasi tersebut sangat rentan.

Dengan menggunakan platform bernama Spectra, Climate, mereka menilai dampak dari 16 jenis risiko iklim, mulai dari suhu ekstrem hingga banjir dan badai, untuk memahami wilayah mana yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Read More : Dilamar Al, Alyssa Daguise Ingin Kasih Cucu Banyak ke Maia Estianty

Di urutan teratas daftar tempat paling berbahaya adalah sistem Subak di Indonesia, yang juga dikenal sebagai sistem irigasi tradisional Bali. Sistem ini sangat rentan terhadap banjir, panas ekstrem, dan kekeringan, serta masa depannya yang sangat tidak pasti. Berikutnya adalah Taman Nasional Kakadu di Australia yang juga rentan terhadap banjir besar dan kebakaran hutan. – (./Sengaja)

“Potensi dampak akibat perubahan iklim di wilayah tersebut sangat besar. “Kita tidak hanya berbicara tentang hilangnya bangunan atau monumen, kita berbicara tentang hilangnya sejarah, budaya, dan identitas kita sebagai manusia,” kata Ahmed.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *