La Paz, Beritasatu.com – Jenderal Bolivia Juan Jose Zuniga, yang dituduh memimpin kudeta gagal terhadap istana negara, dikirim ke penjara dengan keamanan maksimum akhir pekan lalu. Dia didakwa melakukan terorisme karena memulai pemberontakan bersenjata.
Read More : Helikopter India Jatuh Saat Operasi Penyelamatan di Kapal Tanker
“Pada titik tertentu kebenaran akan terungkap,” kata Jenderal Juan José Zúñiga yang diborgol kepada wartawan ketika dua penjaga mengawalnya ke dalam kendaraan yang membawanya ke Chonchocoro dengan keamanan maksimum di pinggiran kota La Paz.
“Sisanya tidak bersalah. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah,” tambahnya.
Dua mantan panglima militer lainnya, termasuk mantan Wakil Laksamana Angkatan Laut Juan Arnez Salvador, juga dibawa ke penjara yang sama.
Zúñiga, yang ditangkap pada Rabu (26 Juni 2024) setelah pemberontakan, mengatakan Presiden Bolivia Luis Arce memberinya perintah untuk melakukan pemberontakan. Pemimpin Bolivia membantah keras hal tersebut.
Arce mengatakan kepada AP bahwa Zúñiga berencana untuk mengambil alih pemerintahan dan menjadi presiden, sekali lagi menyangkal bahwa serangan Rabu lalu adalah kudeta yang dimaksudkan untuk memberinya pilihan politik.
Read More : AS Yakin Kesepakatan Dagang dengan China Tercapai Hari Ini
Pihak berwenang Bolivia menangkap 21 orang, termasuk Zúñiga, yang ditahan di kantor polisi di La Paz. Mereka semua dituduh melakukan pemberontakan bersenjata dan terorisme.
Sebanyak 14 tahanan dihadirkan ke hadapan hakim pada Minggu WIB (30 Juni 2024).
Kerabat dari beberapa orang yang ditangkap mengatakan mereka tidak mengetahui rencana kudeta tersebut. Beberapa anggota keluarga mengatakan orang yang mereka cintai hanya mengikuti perintah atau diberi tahu bahwa mereka sedang menjalani pelatihan militer.