Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia mencatatkan tingkat inflasi sebesar 1,84% tahun ke tahun (year-on-year) pada bulan September, turun dari 2,12% pada bulan Agustus. Deflasi ini merupakan kali kelima berturut-turut sejak Mei 2024.

Read More : Ekonomi Kuartal I 2024 Tumbuh 5,11 Persen, Hanya Lapangan Usaha Pertanian yang Terkontraksi

NH Korindo Sekuritas mengatakan ini adalah alarm darurat bagi perekonomian Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat kelas pekerja tidak punya uang untuk berbelanja.

NH Korindo Sekuritas (NHKSI Research) dalam risetnya di Jakarta, Senin, menyatakan “Para ekonom juga melihat hal ini akan menjadi kendala bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia untuk tetap berada di level 5% jika hanya dikaitkan dengan sektor publik. pengeluaran.” 7/10) /2024).

Kemudian, untuk mengatasi permasalahan tersebut, Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka diminta bertindak secepatnya. Misalnya saja dengan memberikan insentif dan operasi pasar agar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi pusat perhatian masyarakat.

“Walaupun perlu dilakukan kajian terhadap kebijakan berikut ini untuk sektor padat modal yang dampaknya lebih kecil terhadap lapangan kerja,” jelas NH Korindo Sekuritas.

Sebelumnya, Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani mengungkapkan, Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut dan penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur dalam tiga bulan terakhir dan menjadi PR dalam negeri (PR ). ekonomi

Read More : Industri Kehutanan Ambil Bagian Dorong Net Zero Emission, APRIL Group Siapkan Langkah Nyata

“Dan menurut saya ini menjadi tantangan pemerintah ke depan,” kata Ejib Hemdani di Investor Market Today IDTV, Rabu (2/10/2024).

Menurut Ajib, turunnya harga komoditas tidak dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas yang diberlakukan pemerintah, dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS). 

Pasalnya, hal itu pada dasarnya menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat. Namun jika harganya tinggi, pasti karena kurangnya permintaan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *