Seoul, Beritasatu.com – Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol menghadapi pemakzulan dalam sidang pemilihan parlemen yang digelar Sabtu sore ini (7/12/2024). Hal ini juga merupakan ancaman protes jalanan besar-besaran yang direncanakan di Seoul.

Read More : Suvenir Sambut Paus Fransiskus Laris Terjual di Singapura

Penyelenggara protes memperkirakan 200.000 pengunjuk rasa akan hadir.

Krisis politik yang menyebabkan presiden Korea Selatan harus menghadapi pemakzulan dimulai pada Rabu dini hari (4/12/2024) WIB, ketika Yoon Suk-yeol mengejutkan negara itu dengan mengumumkan darurat militer untuk pertama kalinya sejak tahun 1980-an. Perintah ini termasuk pengiriman pasukan dan helikopter ke Majelis Nasional. 

Namun, anggota parlemen berhasil menggagalkan upaya tersebut, sehingga Presiden Yoon membatalkan keputusan tersebut pada Rabu pagi, sebuah momen dramatis bagi negara yang terkenal dengan demokrasinya yang stabil dan Asia Timur.

“Deklarasi darurat militer berasal dari posisi langsung saya sebagai presiden,” kata Yoon dalam pidato singkat di televisi. 

“Namun, saya memahami langkah ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Aku minta maaf untuk minta maaf,” lanjutnya.

Meskipun demikian, Yoon tidak mengajukan pengunduran dirinya dari kursi kepresidenan dan mengatakan bahwa dia akan menyerahkan sistem kepada partai untuk menstabilkan situasi politik, termasuk masa jabatannya.

Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang berkuasa terbelah menyikapi situasi ini. Ketua Partai Han Dong-hoon mengatakan pengunduran diri Yoon tidak bisa dihindari untuk mencegah kerusuhan lebih lanjut. 

Read More : Tantang Duel, Elon Musk Siap Ajak Presiden Maduro Terbang Gratis ke Planet Mars Jika Menang

Di sisi lain, oposisi yang memiliki 192 kursi dari 300 kursi di parlemen hanya membutuhkan delapan suara lagi dari anggota PPP untuk mendukung mosi pemakzulan.

Jika presiden Korea Selatan menghadapi pemakzulan, jika pemungutan suara disahkan, Yoon Suk-yeol akan tetap menjabat sampai Mahkamah Konstitusi mengambil keputusan akhir. Pemungutan suara ini akan menentukan masa depan politik Korea Selatan yang saat ini sedang diuji dengan susah payah.

Sementara itu, udara di jalanan Seoul semakin panas. Puluhan ribu pengunjuk rasa berkumpul di dekat Parlemen Nasional, dan beberapa memilih untuk bermalam. Jajak pendapat baru menunjukkan dukungan terhadap Yoon Suk-yeol berada pada titik terendah sepanjang masa, hanya 13 persen.

Deklarasi darurat militer yang dilakukan Yoon disebut-sebut sebagai langkah untuk melindungi Korea Selatan dari ancaman komunis Korea Utara. Namun, tindakan ini menimbulkan kekhawatiran keluarga dan komunitas internasional, karena tentara hampir berhasil membubarkan Majelis Nasional dan mencoba menangkap politisi penting. 

Situasi ini berarti presiden Korea Selatan menghadapi pemakzulan di parlemen.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *