Jakarta, Beritasatu.com – Psikiater Rumah Sakit Sipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, dr Kusuma Minayati menjelaskan, depresi merupakan salah satu penyakit mental yang mungkin dialami anak-anak yang menjalani pengobatan kanker.
Read More : Polda DIY Sita 2.883 Botol Miras Tanpa Izin
“Penyakit mental pada anak dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai cara, depresi adalah yang paling umum. Selain itu, ada masalah terkait perkembangan saraf seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan mental dan autisme,” kata Kusuma, Sabtu (26). /10/2024) di Antara.
Mendiagnosis depresi pada anak yang menjalani pengobatan kanker sulit dilakukan karena gejala seperti konsentrasi, pola tidur, nafsu makan, dan rendahnya tingkat energi dapat dipengaruhi oleh pengobatan yang mereka terima.
Depresi pada anak dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kepatuhan pengobatannya.
Selain depresi, penyakit mental lain yang ditemukan pada anak penderita kanker adalah kecemasan, terutama kecemasan dan penantian yang muncul sebelum sesuatu terjadi.
“Kecemasan dan antisipasi sering kali muncul dan dapat diatasi dengan perilaku, pendidikan, atau pengobatan tergantung pada tingkat keparahan gejalanya,” jelasnya.
Kusuma mengidentifikasi gangguan mental lainnya, delirium, yang ditandai dengan perubahan kondisi kesadaran akibat pengobatan nonmedis. Gejala yang mungkin terjadi antara lain gangguan tidur dan mudah tersinggung.
Menurutnya, hal ini memerlukan identifikasi dan pengobatan yang tepat, penggunaan alat diagnostik dan intervensi untuk mengatasi gejala, dalam proses pengobatan untuk memastikan kemajuan.
Read More : Kolaborasi Shopee dan YouTube Shopping, Kreator dan Brand Ternama Berkumpul di #NgeDealYuk12.12
Gangguan psikologis dapat terjadi setelah diagnosis kanker. Pada masa ini, anak mungkin akan merasa cemas dan khawatir karena harus terus menerus ke rumah sakit dan memeriksakan diri ke dokter. Kecemasan juga dapat timbul dari perubahan budaya, seperti semakin permisifnya pihak sekolah dan perubahan perilaku saudara kandung serta orang tua.
“Saat anak membutuhkan perawatan intensif, terkadang orang tua mengabaikan pengasuhan saudaranya sehingga dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan bagi anak dalam menjalani pengobatan kanker,” kata Kusuma.
Selain itu, kemoterapi, pembedahan, dan radiasi dapat mempengaruhi kesehatan anak. Anak yang masih tumbuh dan berkembang mungkin akan merasa tertinggal sehingga dapat berujung pada stres.
Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dan anak untuk saling memahami dan menghibur usia anak, serta berkomunikasi dengan baik agar anak dapat memahami keadaan.
“Anak-anak sering kali kesulitan mengungkapkan perasaannya. “Kita bisa menggunakan teknik-teknik yang dekat dengan keseharian mereka, seperti akting dan visualisasi, untuk menggambarkan rasa sakit yang mereka alami,” tutupnya.