Jakarta, Beritasatu.com – Petinju Aljazair Imane Khelif meraih medali emas Olimpiade Paris 2024 setelah menghadapi serangan dunia maya dari seluruh dunia tentang identitas gendernya yang kerap ditudingnya sebagai transgender.
Read More : Jelang Indonesia U-20 vs Timor Leste: Pasukan Indra Sjafri Tampil dengan Kekuatan Penuh
Khelif mengalahkan petinju China Yang Liu 5:0 di babak final divisi kelas welter putri, Jumat (9/8/2024). Penonton meneriakkan namanya dan bersorak setiap kali dia melayangkan pukulan. Usai kemenangannya, Khelif melompat ke pelukan pelatihnya. Salah satu dari mereka mengangkatnya ke bahu, membawanya berlari dan mengambil bendera Aljazair dari kerumunan.
“Selama delapan tahun, ini adalah impian saya, dan sekarang saya adalah juara Olimpiade dan peraih medali emas,” kata Khelif melalui seorang penerjemah, mengutip AP.
Menanggapi pengawasan ketat terhadap identitasnya, dia memberikan tanggapan yang bijaksana.
“Menambah arti tersendiri bagi keberhasilan saya karena serangan-serangan tersebut. Kita bertanding di Olimpiade untuk menunjukkan prestasi kita sebagai atlet, dan saya berharap serangan-serangan tersebut tidak terjadi lagi di Olimpiade ke depan,” ujarnya.
Kontroversi Khelif bermula dari keputusan Asosiasi Tinju Internasional Rusia yang mendiskualifikasi Khelif dan peraih medali Olimpiade dua kali Taiwan Li Yu-ting dari kejuaraan dunia 2023, dengan alasan mereka tidak memenuhi syarat untuk kejuaraan putri. .
“Saya memenuhi syarat penuh untuk mengikuti kompetisi (wanita) ini,” kata Khelif. “Saya perempuan seperti perempuan lainnya, saya lahir sebagai perempuan, hidup sebagai perempuan, dan berkualitas,” tegasnya.
Read More : Harapan Man United Tampil di Kompetisi Eropa Bergantung pada Hasil Ini
Komite Olimpiade Internasional juga menegaskan Khelif berhak berlaga di kategori putri. Kritik terhadap kedua petarung itu marah.
“Saya menyampaikan pesan dengan medali emas ini bahwa saya mempunyai kehormatan dan kejayaan lebih dari apapun,” kata Khelif.
Medali emas Khelif merupakan medali pertama Aljazair di cabang tinju putri. Ia menjadi petinju kedua yang meraih medali emas untuk negaranya setelah Hocine Soltani (1996), peraih medali emas ketujuh dalam sejarah Olimpiade Aljazair.