Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas pada Kamis (5/9/2024) menguat hingga level tertinggi dalam sepekan. Hal ini disebabkan oleh penurunan imbal hasil dolar dan obligasi Amerika Serikat (AS). Namun, setelah rilis data ketenagakerjaan AS, harapan investor terhadap penurunan suku bunga besar-besaran oleh The Fed meningkat.

Read More : Minyak Mentah Mengawali Perdagangan di US$ 66,79 Per Barel

Mengutip CNBC International, Jumat (6/9/2024), emas spot melonjak 0,9% menjadi $2,515.40 per ounce setelah mencapai level tertinggi 1,1% di awal sesi.

Namun kenaikan tersebut sedikit terkoreksi setelah dirilisnya data sektor jasa AS. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Utara juga naik 0,7% menjadi $2,543.1.

Perusahaan swasta di AS mempekerjakan jumlah pekerja terendah dalam 3,5 tahun pada bulan Agustus, menunjukkan potensi perlambatan yang signifikan di pasar tenaga kerja. Data Rabu (04/09/2024) juga menunjukkan penurunan tajam lowongan kerja di AS pada bulan Juli.

Kepala strategi berjangka Blue Line Phillip Streible mengatakan harga emas melonjak setelah data ADP dirilis. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

โ€œData klaim pengangguran awal juga tidak memberikan gambaran positif mengenai kondisi ketenagakerjaan,โ€ katanya.

Read More : Kenaikan BI-Rate Bisa Picu Capital Inflow, asalkan…

Investor saat ini memperkirakan terdapat kemungkinan sebesar 59% bahwa Federal Reserve AS akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini, dan peluang sebesar 41% untuk penurunan sebesar 50 basis poin.

Sementara itu, logam mulia lainnya, yaitu perak spot, naik 1,9% menjadi $28,82, platinum melonjak 2,7% menjadi $926,74 dan paladium naik 0,9% menjadi $942,36.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *