Jakarta, Beritasatu.com – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai pemetaan penyerapan tenaga kerja diperlukan guna menekan jumlah pengangguran di Indonesia.

Read More : Bansos Jadi Bentuk Investasi Pemerintah ke Masyarakat

Ketua Panitia Tetap Pasar Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja di Kadın, Ning Wahiu Estotic, mengatakan pemetaan tidak hanya akan dilakukan saat ini, melainkan di tahun-tahun mendatang kebutuhan dunia.

“Dengan pemetaan, kita punya waktu untuk menyiapkan tenaga kerja, seperti apa dan untuk apa. Sekarang, di banyak jurusan di SMK, tidak ada lapangan kerja. “Jadi ini hal yang perlu dikaji dengan baik dan benar. dipetakan,” kata Ning Wahiu Estotic di BEI, c Karta, Jumat (26/4/2024).

Sekadar informasi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran di Tanah Air pada Agustus 2023 sebanyak 7,86 juta orang.

Menurut Ning, faktor utama yang mempengaruhi daya saing tenaga kerja di Indonesia adalah kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan akademis dan profesi. Kualitas tenaga kerja tidak mungkin dipisahkan dari pendidikan, lembaga pendidikan, kurikulum, hingga guru. Sayangnya, keterhubungan dan kecocokan antara lembaga pendidikan dan dunia usaha tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran lembaga pendidikan dalam mengurangi pengangguran.

Read More : IISF 2024 Bukti Nyata Kolaborasi untuk Perubahan Iklim, Pertamina Tandatangani Kerja Sama Transisi Energi

“Lembaga pendidikan tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus berjalan beriringan dengan dunia kerja. Cadin memiliki banyak program profesi dan pelatihan yang bekerjasama dengan pemerintah dan badan usaha. Namun terkadang kita juga menemui kendala, dunia pendidikan adalah tidak sefleksibel kami, karena ada kurikulum yang tidak bisa diubah begitu saja,” jelas Ning.

Selain itu, tambah Ning, mutu pendidikan juga bersumber dari keterampilan guru yang mumpuni dan cerdas, misalnya kemampuan memanfaatkan teknologi dalam pengajaran. Sementara itu, masih terdapat tenaga pengajar di lapangan yang belum bisa mengoperasikan komputer dan ponsel pintar dengan baik.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *