Jakarta, Beritasatu.com – Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) meminta pemerintah menunda rencana asuransi wajib tanggung jawab kendaraan (TPL) mulai Januari 2025.

Read More : Apindo Dukung Penuh PPh Final Pelaku Usaha Online, Dorong Kepatuhan UMKM Digital

Ketua DPP APPBI Jenderal Alphonsus Wijaja menegaskan, daya beli masyarakat kelas bawah kurang baik. Sebab jika ketentuan ini diterapkan maka akan menurunkan daya beli masyarakat, khususnya masyarakat bawah. Hal ini sama dengan simpanan perumahan rakyat (kerucut).

“Kami mengimbau pemerintah tidak mengambil kebijakan yang semakin menurunkan daya beli masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah, karena akan berdampak langsung,” ujarnya kepada Beritasatu.com, Selasa (30/07/2024).

Rencana ini sama dengan menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari saat ini 11% menjadi 12%.

Ia juga berharap pemerintah menunda kenaikan PPN karena akan berdampak pada tenaga penjualan, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Sebaliknya, bagi masyarakat kelas menengah atas, kenaikan PPN mungkin relatif kecil atau tidak terasa.

“Selain itu, asuransi wajib kendaraan bermotor juga harus ditunda karena berpotensi menurunkan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Jika semua ini terjadi maka akan terjadi hal-hal tidak sehat terutama pada masyarakat menengah ke bawah yang dapat menurunkan daya beli, transaksi dan penurunan penjualan menyulitkan pengusaha,” kata Alfonzus.

Read More : Berpartisipasi di FEKDI 2024, LinkAja Perkuat Ekonomi Digital melalui Optimalisasi Kinerja Ekosistem

Dijelaskannya pula, bukan soal pro atau kontra, mendukung atau tidak, melainkan dampak ke depan yang melatarbelakangi semua ini. APPBI menyadari bahwa pemerintah membutuhkan pendapatan masyarakat melalui beberapa cara, seperti asuransi wajib kendaraan bermotor, kenaikan PPN, dan lain-lain.

“Namun bukan berarti kita harus membuat aturan tarif baru atau menaikkan PPN. Kita berterima kasih kepada pemerintah karena telah menurunkan pajak daerah dari 25% menjadi 35% menjadi 10%. Hal ini akan meningkatkan daya beli dan transaksi serta menumbuhkan wirausaha baru di Indonesia. dunia hiburan dan gaya hidup.  

“Jadi saran saya akad asuransi kendaraan bermotor sebaiknya ditunda karena belum tepat waktunya dan bisa menyebabkan turunnya daya beli masyarakat. Ini akan semakin menyulitkan pengusaha karena akan menurunkan daya beli masyarakat bawah. Jadi strategi yang tepat “Sekaligus meningkatkan transaksi atau daya beli masyarakat semaksimal mungkin untuk mendukung pertumbuhan. Lalu pemerintah bermain-main dengan tarif,” tutupnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *