Demak, Beritasatu.com – Di balik memprihatinkan kondisi pesisir pantai di Kabupaten Demak, Jawa Tengah yang kerap dilanda banjir rob, ternyata ada seorang nelayan yang semangat merawat hutan bakau. Hal itu dilakukannya untuk membuat garis pantai agar pemukimannya tidak semakin terendam banjir rob.
Read More : Necisnya Ko Apex Saat Ditangkap Polisi, Pakai Kaus Harga Jutaan Rupiah
Hingga saat ini, siklus banjir rob yang tidak teratur masih menjadi ancaman bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Salah satunya di Desa Purvorejo, Kecamatan Bonang, yang sebagian besar rumah warga dan jalan di desa tersebut terangkat akibat longsor parah. Bahkan, sejumlah rumah berada di atas air laut atau rumah berada di tepian sungai.
Ancaman yang terus menimpa masyarakat pesisir membuat salah satu warga setempat mendedikasikan dirinya sebagai penjaga mangrove. Masrukan sehari-harinya bekerja sebagai nelayan, dengan sukarela merawat hutan bakau yang tersebar di sepanjang pantai wilayahnya.
Pada Jumat (10/11/2024) Masruk mengatakan, “Aktivitas menjadi resah sejak penjarahan dimulai. Ketika rumah-rumah dirampok, hal itu menjadi sulit. Praktisnya sulit”, Jumat (10/11/2024)
Di sela-sela kesibukannya, Masrukan melakukan segala hal mulai dari menanam tanaman bakau di setiap hutan hingga menyusuri pantai mencari ikan di laut. Ia mendedikasikan dirinya sebagai penjaga mangrove untuk menjaga ekosistem laut pesisir dan melindungi koloninya dari ancaman gelombang laut.
Ancaman banjir rob yang semakin parah dalam 10 tahun terakhir membuat Masrukan memutuskan untuk rajin merawat setiap mangrove agar lebat seperti garis pantai. Akibatnya, banyak tanaman bakau kini menjadi lebih lebat dibandingkan kondisi sebelumnya yang mengkhawatirkan.
Menurut dia, permasalahan yang sering mereka hadapi adalah gelombang laut musiman yang paling banyak merusak tanaman bakau yang sedang tumbuh. Akar yang tidak cukup kuat untuk dirusak akan dicabut.
Meski demikian, ia tetap semangat mewujudkan mimpinya menghijaukan kembali pesisir pantai di Desa Purvorejo.
Kepala Desa Purvorejo Rifki Salafudin mengakui antusias masyarakat terhadap perawatan tanaman mangrove untuk melindungi pemukiman serta pembatas atau tanggul kolam ikan yang dikelola masyarakat setempat.
Ancaman banjir di pesisir Demak akibat erosi dan turunnya permukaan air laut mendorong berbagai kelompok masyarakat dan instansi pemerintah untuk menanam mangrove di sepanjang pesisir Demak.
Read More : Ular 5 Meter Ditangkap di Kandang Ayam, Warga Salatiga Sering Kehilangan Ternak Secara Misterius
“Salah satunya seperti benteng bagi desa dan juga mempunyai kelebihan yaitu setiap tanggul danau dibentengi. Selain itu, kami juga beberapa kali mendapat bantuan dari kelompok pecinta alam untuk menanam mangrove,” jelasnya.
Kondisi kritis pesisir Demak juga menjadi perhatian serius bagi rehabilitasi dan rehabilitasi pemerintah pusat. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Shakti Vahyu Trenggono pun berkunjung langsung ke Demak pada Jumat (11/10/2024). Saat itu, Trenggono menggagas model pengembangan kawasan berdasarkan hasil sedimentasi atau pemanfaatan permukaan bagi kapal-kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Morodemac.
Dalam pelaksanaan pengelolaan sedimentasi, KKP telah menetapkan kawasan prioritas dan merincinya dalam dokumen perencanaan. Sedimen yang menurunkan daya dukung ekosistem pesisir harus segera diatasi agar fungsi ekosistem tidak terganggu.
Deretan beton membentang sepanjang 800 meter sehingga menimbulkan sedimentasi dan diharapkan dapat menumbuhkan hutan bakau dalam jangka panjang.
“Waktu itu sedimentasinya tertinggal, jadi lingkungannya baik, nanti tumbuh hutan mangrove. Nanti kalau sudah berkembang dengan baik, ekosistemnya akan dibangun kembali dan turunannya lebih baik,” jelasnya. .
Rehabilitasi kawasan pesisir merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, karena saat ini nelayan membutuhkan banyak waktu dan bahan bakar karena minimnya kedalaman. Sebab, para nelayan harus mengarungi lumpur, banjir, dan ombak yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kondisi ini mengakibatkan tambak tidak produktif, tidak terpakai dan terbengkalai akibat banjir.