Yogyakarta, Beritasatu.com – Transformasi digital di Indonesia masih menghadapi tantangan seperti akses internet yang tidak merata dan keamanan siber yang rentan. Meski jumlah pengguna telepon seluler dan internet semakin meningkat setiap tahunnya, permasalahan infrastruktur dan literasi digital masih menjadi perhatian serius pemerintah.

Read More : Brentford vs Man United: Setan Merah Tertinggal 1-2 pada Babak 1

Tantangan tersebut mengemuka pada pembukaan Digital Society Week (DSW) 2024 yang diselenggarakan oleh Center for Digital Society (CFDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadja Mada (UGM). Guru Besar Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Sefa Tania, menekankan pentingnya menciptakan ruang digital yang inklusif dan manusiawi.

Ia mengatakan pada Jumat (10/4/2024): “Tantangan utama yang dihadapi pemerintah saat ini adalah ketimpangan akses terhadap Internet dan keamanan siber yang masih rentan.”

Sebagai solusinya, UGM meluncurkan beberapa program seperti Kecerdasan Digital, Literasi Digital, dan Advokasi Kebijakan terkait Kecerdasan Buatan (AI). Program-program ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan digital dan meningkatkan literasi teknologi.

“Semua ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan digital dan meningkatkan literasi teknis,” tambah Tanya.

Koordinator Ekosistem dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bipnas, Andianto Hariko juga menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur TIK dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung literasi digital. Pengembangan platform digital.

“Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk menciptakan ekosistem digital yang komprehensif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Read More : Alami Luka Bakar Derajat 4, Jenazah Korban Kebakaran Glodok Plaza Sulit Diidentifikasi

Manajer Urusan Pemerintahan dan Kebijakan Publik Google Indonesia Agung Pamongkas juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam menyelesaikan tantangan sosial. Ia menekankan bahwa AI tidak hanya harus efisien, tetapi juga mampu menyelesaikan permasalahan sosial yang nyata. Agung juga menyarankan agar regulasi AI berbasis risiko dan mendorong kesetaraan antara sistem AI dan non-AI.

Tema Kegiatan Outreach DSW 2024 “Dinamika Teknologi Digital dan Masyarakat Digital di Indonesia” bertujuan untuk menggabungkan inovasi teknologi dengan tantangan sosial budaya untuk menciptakan masyarakat digital yang inklusif.

Fina Atriati, Wakil Rektor Bidang Pendidikan FISIP UGM, mengapresiasi peran CFDS dalam meneliti transformasi digital.

“Ini sebuah inisiatif yang luar biasa, akan banyak penelitian yang bisa dipelajari dari para peneliti,” tutupnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *