Jakarta, Beritasatu.com – Pada kuartal IV 2024, perusahaan-perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) sebagian besar sepi. Dibandingkan tahun 2023, sebanyak 79 perusahaan akan melakukan IPO. Hingga September ini, IPO 2023 belum genap separuhnya terlaksana.
Read More : Prabowo Siapkan Peraturan Pemerintah untuk Berantas Judi Online
Kepala Riset Panin Sekuritas Nico Laurens menjelaskan, hal tersebut setidaknya dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
Pertama, dari luar melihat ke dalam, investor fokus pada arah perekonomian, baik global maupun domestik. Ketidakpastian masih cukup tinggi di tahun 2024, terutama terkait kebijakan moneter bank sentral khususnya Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
“Jadi, dengan suku bunga kemarin yang relatif tinggi, investor akhirnya memutuskan bahwa asetnya tidak terlalu bagus. “Itu membuatnya kurang positif,” kata Nico Laurens di acara “Investor Daily Talk” IDTV, Jumat (10/4/2024).
Oleh karena itu, permintaannya relatif menurun karena kekhawatiran pelaku pasar. Misalnya, dalam kasus Bank of Japan atau Bank of Japan (BoJ), arahannya sebenarnya adalah menaikkan suku bunga untuk memberikan waktu bagi pasar untuk melakukan koreksi.
Kedua, hal ini juga disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel yang juga masih cukup tinggi. Ketiga, juga dari sisi internal, karena indeks harga saham agregat (IHSG) sudah berada pada titik tertinggi sepanjang masa (ATH).
“Ketika mereka masuk, mereka sedikit khawatir harga atau harga sahamnya akan turun karena mereka sudah pernah berada di posisi setinggi itu sebelumnya,” ujarnya.
Read More : Tingkatkan Kompetensi Karyawan Milenial dan Gen Z, PNM Kembali Gelar Learning Festival 2024
Keempat, dari segi ketersediaan (penawaran), karena belakangan ini investor kurang memperhatikan karena kualitas IPO belakangan ini kurang baik dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Dengan demikian, dari sudut pandang investor, jelas IPO hanya mengedepankan kuantitas tanpa mempertimbangkan kualitas emiten yang datang ke bursa.
Baca juga: BEI Harus Perbaiki Proses IPO yang Sering Terjadi Kemacetan. Namun belakangan terjadi perubahan terkait pemilihan perusahaan yang akan mendaftar di BEI.
“Saat ini sudah ada laporan penelitiannya. Saat kami berdiskusi dengan tim investment banking, mereka juga melihat bahwa term trade atau benchmark yang dibidik pasar saham relatif ketat,” tutupnya.