JAKARTA, Beritasatu.com – Kondisi inflasi global dan perekonomian AS membuat ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral AS atau Fed Funds Rate (FFR) lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut mempengaruhi tindakan yang diambil Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan suku bunga acuan (BI rate).

Read More : Pertarungan Film Box Office Keluarga, Sonic The Hedgehog 3 Kalahkan Mufasa: The Lion King

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warzio mengatakan kebijakan moneter BI berimbang antara stabilitas dan pertumbuhan.

Penetapan suku bunga acuan BI mempertimbangkan kondisi inflasi dan stabilitas nilai tukar rupee. Pada rapat dewan Bank Indonesia tanggal 15-16 Oktober 2024, BI memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 6%, suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga pinjaman sebesar 6,75%.

“Bulan lalu kami mulai menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin, kami sampaikan bahwa BI akan melihat peluang untuk menurunkan suku bunga. Kami juga menulis hari ini karena fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek adalah pada stabilitas nilai tukar rupee. karena meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global,” kata Perry. Gedung Thamrin, BI Rabu (16/10/2024).

Perry menjelaskan, dari survei BI, Federal Reserve AS akan memangkas FFR sebanyak dua kali pada November dan Desember sebesar 25 basis poin.

Sebelumnya, The Fed pada Rabu (18/9/2024) memutuskan untuk memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak dimulainya pandemi Covid-19. Keputusan tersebut membuat suku bunga acuan The Fed berada pada kisaran 4,75-5%.  

“Feed fund rate akan turun masing-masing sebesar 25 basis poin pada bulan November dan Desember, sehingga total penurunan tahun ini sebesar 100 basis poin. Sedangkan tahun depan bisa tiga hingga empat kali lipat atau hingga 100 basis poin,” jelas Perry.

Read More : Prakiraan Cuaca Rabu 8 Mei 2024: Jabodetabek Berawan Hari Ini

Menurut dia, pihaknya tidak hanya fokus pada FFR saja, tapi juga US Treasury Note 10 tenor 2 dan 10 tahun. Pasalnya, status Treasury AS tidak hanya dipengaruhi oleh MFR, namun juga oleh kebijakan fiskal pemerintah AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Artinya ada yang terkait dengan kenaikan suku bunga US Treasury Notes 2 dan 10, ada perbedaan arah FFR, tapi tidak terlalu besar karena ada tensi geopolitik di Timur Tengah. dan dampaknya pada US Treasury Notes 2 dan 10, awalnya kita turun terus, tapi sekarang tidak turun, malah naik,” kata Perry.

Ia menegaskan, stabilitas nilai tukar rupee tetap terjaga sesuai dengan komitmen kebijakan yang diambil BI. Pada Oktober 2024 (sampai 15 Oktober 2024), rupiah terdepresiasi sebesar 2,82% dibandingkan bulan sebelumnya. Melemahnya nilai tukar dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Namun jika dibandingkan dengan level akhir Desember 2023, nilai tukar rupiah hanya melemah 1,17%, lebih baik dibandingkan pelemahan peso Filipina, dolar Taiwan, dan won Korea yang melemah 4,25%, 4,58%, dan 5,62%. , masing-masing,” Perry menyimpulkan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *