Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabovo-Gibran (TKN), Sylfester Matutina meminta Menteri Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin mengesampingkan egoisme sektoral dalam berupaya mewujudkan visi, misi, dan program pemerintah. Menurut Silfester, ego sektoral menjadi salah satu penghambat pelaksanaan program Jokowi.
Read More : Cagub Petahana Rohidin Mersyah Diperiksa KPK Terkait Dugaan Kasus OTT Pejabat Pemprov Bengkulu
“Masalah sektor ego jangan diungkit-ungkit. Ini tidak baik kalau isu sektor ego terus dibiarkan. Kita juga harus paham kalau ada koordinasi antar kementerian terkait program itu, maka harus ada sektor unggulan yang harus mengambil tindakan. memimpin”, ujarnya kepada Beritasatu.com, Kamis (20/6/2024).
Silfester menegaskan, sudah saatnya seluruh menteri dan pimpinan lembaga mengedepankan kerja sama dalam melaksanakan program tersebut. Pasalnya, setiap program harus bersinggungan dengan kementerian lain karena menyangkut anggaran, sumber daya manusia, sarana dan prasarana.
“Jangan sampai ada tumpang tindih kewenangan atau ada yang merasa berkuasa, yang paling berkuasa, itu menurut saya.” Jangan biarkan mereka mengakhiri pemerintahan ini, supaya di pemerintahan berikutnya mereka terlihat baik, para menteri ini mengungguli Pak Prabov dan Mass Gibran. Jangan biarkan itu terjadi. terus bersinergi untuk kebijakan publik agar kedepannya sukses semuanya. , di bawah koordinasi Pak Jokowi,” imbuhnya.
Silfester juga mengimbau para menteri untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang kontraproduktif dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Menurut Sylfester, pernyataan terkait surat politik harus dibicarakan secara matang dengan pertimbangan yang masuk akal.
Read More : Jadi Tersangka Kasus Impor Gula, Tom Lembong: Kita Serahkan kepada Tuhan
“Para menteri harus menahan diri, tidak membiarkan diri mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang salah, kita tahu kadang-kadang mereka berusaha menyenangkan masyarakat atau nanti Pak Prabov dan Mass Gibran, membuat pernyataan-pernyataan yang tidak perlu agar tidak terkesan bersatu,” pungkas Silfester.